Singkong dan Kambing

Singkong dan Kambing

Di suatu desa hidup seorang alim yang mewakafkan dirinya untuk ibadah kepada Allah Ta’ala… dan mengajar anak anak belajar Al-Qur’an. Seorang alim tersebut  itu sangat terkenal dan sering mendapat kunjungan dari warga masyarakat untuk mendapat petuah dan nasehat darinya. Dia juga seorang yang dermawan.

Di desa itu pula hidup dua orang yang bertetangga. Yang satu bernama Umar, ia berprofesi sebagai petani. Hidupnya sederhana dan terkenal sebagai orang yang jujur. Sedangkan tetangganya bernama Amir, ia berprofesi sebagai seorang pedagang dan terkenal karena selalu menghitung sesuatu dengan keuntungan… dan di dalam setiap aktifitasnya harus diukur dengan uang dan keuntungan.

Pada suatu hari Uma memanen hasil kebunnya berupa tanaman singkong dan hasilnya sangat melimpah. Sehingga Umar berkata, “Insya Allah saya akan menyedekahkan beberapa hasil panen saya kepada kyai dan guru kami. Mudah-mudahan dengan sedekah ini Allah beri berkah dan mudahkan Rezeki saya.”

Maka berangkatlah Umar ke rumah kyai yang alim itu dengan membawa beberapa buah singkong untuk disedekahkan. Sesampainya disana Umar berkata, “Kyai saya membawa hasil panen dari kebun, untuk diberikan kepada kyai.”dan mungkin juga untuk para santri.

Lalu Ulama itu berkata, “Apa itu, wahai Umar?”

“Ini sekarung singkong hasil panen kyai!” sahut Umar.

“Baiklah taruh di belakang rumah,” kata kyai.

Lalu kyai itu terdiam sejenak, kemudian masuk ke dalam rumah dan bilang ke istrinya. “itu Umar bawa singkong, nanti pulangnya kita kasih apa ya?Tanya kyai ke Istrinya,

Lalu istri kyai itu bilang, bahwa kemarin kita kan dikasih kambing oleh si fulan, kasihkan saja kambing tersebut ke Umar, dia kan rajin dan jujur orangnya, pasti disana akan jadi banyak. Lagian dirumah kita juga ndak ada yang piara, sahut istri kyai tersebut. Lalu Kyai tersebut memanggil Umar, Mar, Bawalah singkongmu ke belakang “Setelah kau letakkan singkongmu, ambil anak kambing yang ada di situ untukmu. Anak kambing itu adalah hadiah dari si fulan.”

“Itu balasan dari Allah atas pemberianmu kepadaku,” lanjutnya.

“Ndak usah kyai, ini ikhlas Lillahi Ta’ala…” kata Umar

“Ambillah!” kata Kyai itu lagi.“Jangan Kyai!” Balas Umar mengelak

Tapi karena kyai terus mendesak akhirnya Umar mengambilnya… dan membawanya ke rumah…

Di tengah jalan pulang Umar berpapasan dengan Amir. Melihat Umar membawa seekor anak kambing… spontan Amir bertanya, “Dari mana, Mar?”

Umar menjawab, “Dari rumah Kyai, bawa singkong hasil panen.”

“Lalu anak kambing itu dari mana?” tanya si Amir.

“Pemberian Kyai untuk saya, balasan dari singkong yang saya hadiahkan kepadanya,” jawab Umar.

“Apaaaa…?” sahut Amir keheranan.

“Singkong dibalas kambing?” tanya Amir tak percaya.

“Ya, begitulah kejadiannya,” jawab Umar.

“Betulkaaah perkataanmu itu?” balas Amir dengan perasaan keheranan.

“Ya, betul,” Amir menjawab.

Akhirnya mereka berpisah… dan Amir masih penasaran dan terus tidak percaya atas apa yang baru saja dikatakan oleh Umar. “Kalau singkong dapat kambing… bagaimana kalau buah yang lebih mahal? Bisa-bisa dapat sapi atau kerbau…”gumam Amir dalam hati.

Dengan semangat Amir membeli buah-buahan berupa mangga… duren… rambutan… langsat… dll untuk diberikan kepada Kyai dengan harapan mendapat balasan berupa sapi atau kerbau sesuai dengan perhitungannya.

Setelah mendapat semua buah-buah tersebut, Amir segera bergegas ke rumah ulama itu!

Sesampai disana ia langsung menjumpai Kyai tersebut dan berkata, “Kyai ada hadiah untuk engkau. Buah-buahan segar yang enak dan banyak ini kyai.” Ini ikhlaaaaaaas kyai…. bener iiiiiiikhlashhhhh…….

“Mudah-mudahan balasannya sapi atau kerbau,” gumam Amir dalam hati.

“Ya, Jazakallahu khair, Mir,Amir,  atas pemberiannya,” kata Kyai. “Tolong letakkan buahnya di dalam rumah,” lanjut kyai sambil terdiam berpikir apa yang harus diberikannya pada Amir untuk membalas kebaikannya.

Tiba-tiba sang kyai tersenyum… ia teringat rupanya singkong Umar masih ada di belakang rumah. Teringat hal itu kyai itu berkata, “Sebelum pulang, nanti Amir, silahkan ke belakang ada sesuatu untukmu”

Mendengar hal itu Pak Makmur sangat gembira..terbayang keuntungan yang akan dia dapatkan berupa seekor sapi atau kerbau…! Tapi alangkah terkejutnya ia ketika tiba di belakang rumah ternyata disitu tak ada satu ekor sapi ataupun kerbau, melainkan hanya ada beberapa buah singkong?

“Kemana sapinya?” gumam Makmur. “Yang ada hanya singkong,” tambahnya. Akhirnya ia berkeliling tapi tetap tak ada…“Jangan-jangan maksud kyai ini benar-benar singkong ini?” bisiknya dalam hati. “Kalau benar maka celakaaaanya saya… Rugiiiiiii!”,“Bukannya untung malah buntung!” gerutu Amir.

Dengan perasaan berat dan kecewa teramat sangat… Amir  membawa singkong tersebut ke rumahnya. Tak ada keuntungan malah kerugian. “Rugiiiiiiiiii!” teriak Amir dalam hati.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *