Sadarilah, Bahwa Kehidupan Belum Kembali Normal

Sadarilah, Bahwa Kehidupan Belum Kembali Normal

Konsep ini berarti kita harus bisa beradaptasi dengan keadaan normal baru yang berbeda dengan keadaan normal sebelum pandemi covid-19 merebak. Keadaan baru berarti ada yang berbeda. Baik dari cara kita melakukan kegiatan maupun dari berbagai aspek lainnya.

Setidaknya, ada tiga hal utama yang membuat konsep kenormalan baru ini berbeda. Yakni memakai masker, sering mencuci tangan, dan tidak berkerumun alias menjaga jarak. Ketiga hal ini menjadi inti dari sebuah tatanan kehidupan yang mau tidak mau, suka atau tidak, harus kita lakukan.

Sayangnya, itu tidak berlaku bagi sebagian orang yang merasa bahwa new normal artinya kembali normal kembali. Tidak ada lagi istilah PSBB dan sejenisnya yang membuat aktivitas di luar rumah menjadi sebebas-bebasnya. Menjadi tak terkendali dan melupakan tiga hal utama yang menjadi pedoman kenormalan baru.

Entah euforia dari sebagian orang tersebut amat tinggi akibat terlalu lama di rumah saja, atau memang ada diantara mereka yang masih menyepelekan masalah covid-19 ini, yang jelas semakin lama sudah banyak orang yang merasa bahwa kini kita sudah bisa hidup normal.

Bergerumbul, tidak memakai masker, dan pastinya tidak mau mencuci tangan. Aneka tempat nongkrong pun kembali buka dan banyak diantaranya yang tidak mematuhi protokol kesehatan. Saat ada kegiatan rapid tes acak, banyak diantara pengunjung kafe tersebut yang reaktif. Alias terindikasi tubuhnya sedang melawan suatu penyakit tertentu. Meski belum positif covid-19, tetapi hal itu cukuplah mengkhawatirkan.

Banyaknya orang yang acuh terhadap konsep kenormalan baru ini memang cukup memilukan. Di saat tenaga medis berjuang dengan pasien covid-19 yang terus berdatangan, mereka seolah abai. Tak peduli dengan bahaya yang mengancam. Kesenangan semu yang mereka dapatkan bisa saja membawa petaka, tidak hanya bagi diri mereka sendiri, tetapi orang lain di sekitar mereka.

Untuk itulah, upaya sosialisasi yang benar-benar efektif terhadap masyarakat harus gencar dilakukan. Sosialisasi ini tidak sebatas pada pamphlet, baliho, atau selebaran, tetapi harus benar-benar menyentuh media yang bisa diakses oleh banyak orang. Media sosial misalnya.

Tak hanya itu, perlu beberapa orang yang peduli terhadap konsep kenormalan baru ini agar bisa menyosialisasikan kepada mereka yang masih abai. Lantaran, jika peran untuk menyosialisasikan bahwa kenormalan baru ini bukanlah kembali normal, maka itu tidak akan pernah berhasil.

Tanpa dukungan dan peran serta dari masyarakat, rasanya masih banyak orang yang tidak percaya bahwa bahaya covid-19 memang benar-benar mengancam. Teori konspirasi yang didengungkan oleh beberapa orang nyatanya masih banyak orang yang percaya. Baik di perumahan elit maupun kampung-kampung teori itu tetap sama kuatnya dengan berita covid-19 sendiri.

Meski demikian, menjaga prinsip untuk mengubah pikiran bahwa kenormalan baru tidak sama dengan kenormalan sebelumnya adalah sebuah tantangan sendiri. Saat lama-lama banyak orang di sekitar kita yang mulai abai, di situlah kesabaran dan kegigihan kita diuji. Walau tidak mudah, tetapi jika kita konsisten akan bisa menjalaninya.

Misalkan, saat bepergian tetap mengenakan masker. Jika benar-benar lapar dan tidak mungkin untuk makan di rumah, maka mencari tempat makan yang sepi dan memenuhi standar kesehatan adalah pilihan utama. Berwisata ke tempat yang benar-benar aman dan tak banyak kerumunan bisa dilakukan. Tak perlu jauh yang penting kesehatan mental tetap terjaga.

Berbelanja secara daring juga menjadi kegiatan yang diutamakan saat ini. Yang jelas, tetap tanamkan bahwa saat ini kehidupan belumlah normal. Yang ada adalah kita harus bisa beradaptasi dengan kenormalan baru ini agar tetap produktif tetapi kesehatan kita tetap terjaga.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *