Pribadi Yang Adil

Pribadi Yang Adil

APAKAH kita mempelakukan orang lain dengan adil? Apakah kita sudah merasa diperlakukan dengan adil? Apakah kita bertindak adil? Apakah keputusan kita adil?
Secara harfiah, adil artinya meletakkan sesuatu pada tempatnya. Karena itu, adil adalah memberikan hak kepada setiap orang yang berhak dan menghukum orang yang bersalah sesuai dengan tingkat kesalahannya.

Salah satu perintah Allah SWT tentang penegakan keadilan, termaktub dalam QS Annisaa’ [4]: 58, ”Sungguh Allah menyuruhmu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia hendaknya kamu menetapkannya dengan adil. Sungguh, Allah sebaik-baik yang memberi pengajaran kepadamu. Sungguh, Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”

Setiap kebaikan pasti ada nilai keutamaannya, begitu pula menegakkan keadilan.

Kita harus tetap berlaku adil, sekalipun terhadap mereka yang sangat membenci kita. Ada sebuah kisah pada masa Nabi. Dalam Perang Uhud Sayyidina Hamzah terbunuh dan pembunuhan mereka sangat keji karena dialakukan mutilasi terhadapnya. Seorang sahabat Ansor melihat kenyataan itu berjanji di masa yang akan datang akan membalas melebihi mereka.

Atas pristiwa itu, maka turunlah Ayat al Quran turun dengan memerintahkan “Jika kamu ingin membalas maka balaslah dengan cara yang setimpal. Tetapi jika kamu bersabar, maka bersabar kebih baik.” {Surat An-Nahl ayat 126}.

Ayat ini menawarkan dua metode hukum. Ada hukum Qisas yakni dihukum dengan hal yang sama sesuai perbuatannya. Tawaran kedua etika, moral, tidak usah dibalas (dimaafkan) karena dikatakan bersabar lebih baik.

“… Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa…” [Al Maa-idah 8]”

Akui kebaikan tanpa menutup mata atas kekurangannya. Jangan sampai kebencian kita menutup mata kita tentang kebaikan orang lain. Demikian pula cinta. Hamya karena cinta yang berlebihan menutup keburukan orang yang dicintainya. Semunya memiliki kelebihan dan kekurangan, karena itu bertindaklah dengan adil.

Inilah sikap yang ditunjukkan oleh Rasulullah yang berdasarkan petunjuka dari al quranul karim. Begitulah ajran Islam yang seharusnya diperaktekkan dalam kehidupan bersama.

Keadilan itu salah satu prinsip utama dalam ajaran Islam. Meski kita dirugikan, dizhalimi dan dianiaya sehingga membuat kita sangat benci kepada orang tersebut –baik orang Islam maupun non-Muslim– kita tidak boleh membalas kezaliman dengan kezaliman kepada orang tersebut ataupun kepada pihak ketiga.

Kita tetap harus berbuat adil dan mengikuti proses hukum yang berlaku. Kita boleh saja membenci perbuatan mereka, tapi kita jangan menzalimi pribadi mereka, keluarga mereka, harta dan kedudukan mereka.

Al-Qur’an surat Al-Maidah:8 harus senantiasa menjadi pedoman kita.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ لِلَّهِ شُهَدَاءَ بِالْقِسْطِ وَلا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَى أَلا تَعْدِلُوا اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu menjadi orang-orang yang selalu menegakkan kebenaran karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum membuatmu tidak berlaku adil. Berbuat adillah karena ia lebih mendekati ketakwaan. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan” (QS. Al Maa’idah: 8)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *