Fatamorgana Kehidupan

Fatamorgana Kehidupan

 وَاضْرِبْ لَهُمْ مَثَلَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا كَمَاءٍ أَنزلْنَاهُ مِنَ السَّمَاءِ فَاخْتَلَطَ بِهِ نَبَاتُ الأرْضِ فَأَصْبَحَ هَشِيمًا تَذْرُوهُ الرِّيَاحُ وَكَانَ اللَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ مُقْتَدِرًا (45) الْمَالُ وَالْبَنُونَ زِينَةُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَالْبَاقِيَاتُ الصَّالِحَاتُ خَيْرٌ عِنْدَ رَبِّكَ ثَوَابًا وَخَيْرٌ أَمَلا

“Dan berilah perumpamaan kepada mereka (manusia), kehidupan dunia sebagai air hujan yang Kami turunkan dari langit, maka menjadi subur karenanya tumbuh-tumbuhan di muka bumi, ke­mudian tumbuh-tumbuhan itu menjadi kering dan diterbangkan oleh angin. Dan adalah Allah Mahakuasa atas segala sesuatu”. (Surat Al-Kahfi, ayat 45-46)

Kesempatan hidup yang diberikan Allah hanya dalam rentangan waktu singkat, yang semestinya digunakan untuk berbuat amal shaleh dan kebajikan.

Allah SWT tidaklah menciptakan jin dan manusia kecuali hanya untuk beribadah kepada-Nya (QS Adz-Dzariyat [51]: 56).

Dan Hidup di dunia merupakan perjalanan sementara, sebelum akhirnya semua akan tiba di penghujung batas tujuan, akhirat. Alquran menyatakan,

وَمَا هَٰذِهِ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا لَهْوٌ وَلَعِبٌ  وَإِنَّ الدَّارَ الْآخِرَةَ لَهِيَ الْحَيَوَانُ  لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ

Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui. (QS Al-Ankabut [29]: 64).

Alquran juga memberikan perumpamaan kehidupan dunia seperti hujan yang tanaman-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan terlihat warnanya kuning, kemudian menjadi hancur (QS Al-Hadid [57]: 20).

Terlalu banyak manusia yang silau oleh kemilau dunia, mengejar sesuatu yang seharusnya tidak dikejar. Saling menyikut dan menjatuhkan dengan menghalalkan segala cara, demi meraih tahta jabatan, dan harta kekayaan. Padahal, semua itu hanyalah sementara, tidak setia, dan akan terpisah darinya saat kematian datang menjemput.

Malaikat Jibril pernah datang mengingatkan Nabi SAW, ”Hai Muhammad, hiduplah sesukamu namun engkau pasti mati. Berbuatlah sesukamu namun engkau pasti akan diganjar, dan cintailah siapa yang engkau sukai namun pasti engkau akan berpisah dengannya.” (HR Ath-Thabrani).

Begitu dahsyat pesona dunia, hingga Rasulullah pun sangat mengkhawatirkan umatnya akan terperosok dalam gemerlapnya. Sabda Nabi SAW, ”Bukanlah kemusyrikan yang aku khawatirkan atas kalian, akan tetapi yang aku khawatirkan atas kalian adalah perhiasan kehidupan dunia.” (HR Bukhari).

Apa yang dikhawatirkan Nabi menjadi nyata. Banyak umatnya yang terbelenggu dalam penyakit cintai dunia. Mereka lupa bahwa kelak akan dipanggil menghadap Sang Khalik untuk mempertanggungjawabkan segala apa yang telah dilakukan.

Itulah fatamorgana kehidupan, hanya sebatas hiasan semu yang menyesatkan dan menjadi jebakan. Seiring berjalan dan berputarnya roda waktu, kita hanya mampu berharap agar mendapat kebaikan hidup di dunia maupun di akhirat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *