3 Ciri Orang Taubat

3 Ciri Orang Taubat

Dalam terminologi agama, upaya untuk membersihkan diri dari dosa-dosa, dinamakan taubat. Pada intinya taubat mengandung makna meninggalkan dosa-dosa, baik kecil (al-Shaghair) apalagi besar (al-kabair) disertai penyesalan yang mendalam.

Secara sufistik, taubat dipandang sebagai pangkal tolak (tangga pertama) dalam perjalanan menuju Allah SWT (al-tawbah ashl kulli maqam). Tanpa taubat, manusia tidak bisa mendapatkan akses menuju ke jalan atau orbit Tuhan.

Menurut Ghazali, taubat melibatkan tiga aspek sekaligus, yaitu aspek pengetahuan manusia (kognisi), aspek sikap mental (afeksi), dan aspek perbuatan (behavioral).

Aspek pengetahuan dalam arti kesadaran manusia tentang bahaya dan akibat-akibat buruk dari perbuatan dosa, akan memengaruhi sikap, dan selanjutnya memengaruhi prilaku dan perbuatannya.

Bagi Ghazali, taubat yang baik adalah taubat yang memenuhi tiga kriteria.

Pertama, meninggalkan dosa-dosa (al-iqla’ an al-dzunub).

Kedua, berjanji tidak mengulangi (al-azm an la ya’uda).

Ketiga, menyesali diri atas dosa-dosa yang diperbuat dan atas hilangnya kesempatan dan peluang baik secara sia-sia (al-nadam`ala ma fata).

Kriteria yang ketiga di atas, yaitu penyesalan, dipandang Ghazali sebagai kunci sukses taubat. Hal ini, karena tanpa penyesalan yang mendalam, sukar dibayangkan seseorang akan benar-benar bertaubat.

Itu sebabnya, Nabi SAW memandang bahwa penyesalan itu identik dengan taubat itu sendiri, sebagaimana sabda beliau, ”al-Nadamu taubatun, penyesalan adalah taubat itu sendiri.”

Orang yang benar-benar menyesal, menurut Ghazali, ditandai tiga hal.

Pertama, hatinya lentur dan sensitif serta tidak membeku dan membatu seperti batu cadas (riqqat al-qalb).

Kedua, air matanya mudah meleleh tanpa sadar (ghazarat al-dumu’).

Ketiga, ia kapok dan benci pada dosa-dosa yang dahulu pernah dinikmatinya. Orang yang bertaubat dengan tingkat penyesalan seperti di atas layak mendapat pengampunan dari Allah SWT.

Inilah sesungguhnya makna firman Allah:

”Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain daripada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedangkan mereka mengetahui. Mereka itu balasannya ialah ampunan dari Tuhan mereka dan surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai, sedangkan mereka kekal di dalamnya; dan itulah sebaik-baik pahala orang-orang yang beramal.” (QS Ali Imran [3]: 135-136).

SUMBER:

https://khazanah.republika.co.id/berita/q6b8zc320/3-ciriciri-orang-yang-menyesal-menurut-imam-ghazali

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *