Khutbah Jum’at: Muhasabah Di Awal Tahun

Khutbah Jum’at: Muhasabah Di Awal Tahun

Hadirin Jamaah Jumat rahimakumullah,

Bulan Dzulhijjah adalah bulan terakhir dalam sistem penanggalan Hijriah atau bulan kedua belas. Kita telah memasuki bulan baru dan tahun baru Hijriah, yakni bulan Muharram 1442 H. Oleh karenanya tidak ada salahnya kita terus melakukan refleksi, dan introspeksi diri , yakni menghitung kedirian kita atau muhasabah atas apa yang kita lakukan selama satu tahun, sehingga dapat menjadi pijakan kita dalam melangkah di tahun-tahun berikutnya.

Bulan Muharram adalah satu di antara bulan-bulan yang mulia (al-asyhur al-hurum), Dinamakan dengan bulan Muharram, karena Allah ﷻ mengharamkan berbuat kedzaliman di bulan mulia ini. Selain bulan muharam yang termasuk bulan-bulan yang mulia, yaitu Dzulhijjah, Dzulqa’dah, dan Rajab.

Oleh karenanya, kita disunnahkan berpuasa terutama pada hari ‘Asyura, yakni, tanggal 10 Muharram. Lebih utama jika ditambah dengan puasa tasu’a yakni diawali dengan puasa pada tanggal 9. Adapaun fadhilah melakukan puasa di bulan muharam adalah dapat sebagai penghapus dosa kita yang telah lalu dalam setahun.

Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam mendorong kita melakukan puasa pada bulan Muharram sebagaimana sabdanya,

أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ وَأَفْضَلُ الصَّلاَةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلاَةُ اللَّيْلِ

“Puasa yang paling utama setelah (puasa) Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah – Muharram. Sementara shalat yang paling utama setelah shalat wajib adalah shalat malam.” (HR. Muslim).

Dalam rangka muhasabah diri , kiranya pantas  mengingat kembali pesan Sayyidina Ali karramallahu wajhah,

كُنْ عِنْدَ اللهِ خَيْرَ النَّاسِ وَكُنْ عِنْدَ النَّفْسِ شَرَّ النَّاسِ وَكُنْ عِنْدَ النَّاسِ رَجُلاً مِنَ النَّاسِ

“Jadilah manusia yang paling baik di sisi Allah, dan jadilah manusia yang paling jelek dalam pandangan dirimu, serta jadilah manusia biasa di hadapan orang lain.”

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Pesan ini memberikan arahan yang sangat luar biasa bagi umat Islam dalam mengarungi kehidupan dunia, demi memperoleh kebahagiaan dunia dan akhirat.

Pertama, kita diharapkan terus meningkatkan ketakwaan dan amal kebaikan di hadapan Allah subhanahu wata‘ala. Menjalankan perintah-Nya dan sedapat mungkin menjauhi apa yang menjadi pantangan atau larangan dalam kehidupan sesuai dengan tuntunan agama. Sehingga kita bisa menjadi manusia yang baik di sisi-Nya.

Kedua, kita harus merasa kurang atas amal kebaikan yang kita lakukan dengan terus merasa diri kita jelek. Hal ini bukan berarti merendahkan diri, namun untuk menjauhkan kita dari sikap ujub (sombong), riya (pamer), dan sum’ah (mengharap pujian orang lain).

Ketiga, kita harus menundukkan diri di hadapan orang lain dengan tidak merasa lebih baik. Mungkin banyak di antara kita ketika melihat orang lain, merasa dirinya lebih baik atau lebih mulia.

Maasyiral muslimin rakhimakumullah,

Lantas bagaimana kita mampu mendorong diri kita untuk terus berbuat kebaikan tersebut? Ulama salaf memberikan tips sederhana yang dapat kita lakukan dalam keseharian kita.

Pertama, jika kita melihat orang lain hendaknya kita memandangnya bahwa dia memiliki kelebihan daripada diri kita sendiri, mungkin dia lebih bertakwa, lebih banyak amal kebajikannya, lebih tinggi derajatnya di hadapan Allah subhanahu wata‘ala.

Kedua, jika kita melihat anak kecil atau lebih muda, jangan kita merasa lebih baik darinya. Katakanlah, “Mungkin dia dosanya lebih sedikit daripada diriku, karena umurnya lebih sedikit dariku.” Sebaliknya jika kita melihat orang lebih tua, hendaknya kita melihat bahwa dia telah berbuat kebaikan lebih banyak dari diri kita.

Ketiga, jika kita melihat orang alim, orang yang memiliki ilmu, hendaknya kita menilainya dia memiliki cara yang baik dan benar mengamalkan pengetahuannya dan telah berbuat kebaikan dengan ilmunya tersebut.

Sebaliknya jika kita melihat orang bodoh, hendaknya kita katakan, “Mungkin dia berbuat dosa atau salah akibat ketidaktahuannya, sementara kita lebih berdosa karena berbuat salah pengetahuan pengetahuan yang kita miliki.” Orang bodoh berbuat salah bisa jadi karena ketidaktahuannya, sementara orang alim (memiliki pengetahuan) berbuat dosa bukan karena tidak tahu.

Hadirin jamaah Jumat yang dimuliakan Allah

Instrospeksi diri bukan hanya dilakukan sekali, namun harus menjadi bagian yang tertanam dalam kehidupan kita sehari-hari. Muhasabah adalah cara mengendalikan hidup kita, yang akan memiliki efek luar biasa pada diri kita,

Keteledoran kita untuk melakukan introspeksi bukan hanya dapat mengakibatkan kerusakan pada kehidupan kita, tetapi juga kehidupan yang lebih luas yakni keluarga dan masyarakat. Rasulullah SAW bersabda:

اَلْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ وَالْعَاجِزُ مَنْ أَتْبَعَ نَفْسَهُ هَوَاهَا وَتَمَنَّى عَلَى اللهِ (رواه أحمد)

“Orang yang cerdas (sukses) adalah orang yang menghisab (mengevaluasi) dirinya sendiri, serta beramal untuk kehidupan sesudah kematiannya. Sedangkan orang yang lemah adalah orang yang mengikuti hawa nafsunya serta berangan-angan terhadap Allah” (HR Ahmad).

Hadirin Jamaah Jumat rahimakumullah,

Demikian khutbah ini semoga bermanfaat. Semoga kita termasuk golongan orang-orang yang mampu terus introspeksi dan berbenah diri. 11 bulan kedepan akan dapat kita lalui secara lebih baik. Amiin.

أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا َوَاسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ إِنَّهُ هُوَ السَمِيْعُ العَلِيْمُ

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *