Hijrah Perilaku

Hijrah Perilaku

OLEH FAJAR KURNIANTO

Di antara ciri utama orang beriman adalah selalu berubah dari buruk ke baik, dari baik ke lebih baik. Tak ada manusia yang sempurna. Pasti ada saja kesalahan atau hal-hal buruk yang dilakukan.

Mukmin sejati tidak akan terus-menerus dalam kesalahan dan keburukan, tetapi ia akan segera menyadari dan berubah tanpa menunda-nunda atau banyak membuat-buat alasan.

Hijrah adalah bentuk nyata perubahan. Di antara maknanya secara bahasa adalah meninggalkan. Nabi dan para sahabat berhijrah dari Makkah ke Madinah, yang berarti berhijrah secara fisik, meninggalkan Makkah.

Makna nonfisiknya, menjauhi dan meninggalkan hal-hal buruk yang dilarang Allah dan Rasul-Nya, untuk kemudian melakukan hal-hal baik yang diperintahkan. Nabi mengatakan, “Orang yang berhijrah adalah orang yang meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah.” (HR al-Bukhari dan Muslim).

Allah melarang orang beriman untuk berperilaku buruk, terutama terhadap orang lain, seperti menyakiti, berbuat jahat, menzalimi, mencurangi, menipu, menggunjing, bersikap sombong, dan seterusnya. Perilaku-perilaku buruk semacam ini tak hanya merugikan orang lain, tetapi juga diri sendiri.

Hal-hal baik yang kita lakukan terhadap orang lain akan berimbas baik pula terhadap kita. Begitu juga hal-hal buruk akan berimbas buruk terhadap kita.

Kebaikan yang kita lakukan bukan hanya bernilai pahala, melainkan juga akan membuat pahala kita bertambah ketika orang lain terinspirasi dan mengikuti kebaikan yang sama dengan kita. Begitu pula keburukan yang kita lakukan, tak hanya bernilai dosa, tetapi juga akan membuat dosa kita bertambah tatkala orang lain terinspirasi dan mengikuti keburukan yang kita lakukan.

Nabi Muhammad SAW bersabda, “Barang siapa memulai mengerjakan perbuatan baik dalam Islam, dia akan memperoleh pahalanya dan pahala orang yang mencontoh perbuatan itu tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun. Dan barang siapa yang memulai kebiasaan buruk, dia akan mendapatkan dosanya dan dosa orang yang mengikutinya dengan tanpa mengurangi dosa mereka sedikit pun.” (HR Muslim).

Dalam hijrah perilaku, selalu ada godaan dan aral melintang. Di titik inilah orang beriman diuji, apakah ia lebih mencintai Allah dan Rasul-Nya atau yang lainnya. Apakah motivitasi hijrahnya adalah untuk memperoleh keridhaan Allah dan Rasul-Nya atau demi mendapatkan hal-hal duniawi, seperti ketenaran, kekayaan, atau pasangan hidup, seperti dikatakan Nabi, “Siapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya. Siapa yang hijrahnya karena mencari dunia atau karena wanita yang dinikahinya, hijrahnya kepada yang ia tuju.” (HR al-Bukhari dan Muslim).

Hijrah sejati, yakni hijrah perilaku dari buruk ke baik dan dari baik ke lebih baik, adalah hijrah menuju dan karena Allah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *