Tobat dan Asa

Tobat dan Asa

OLEH WISNU TANGGAP PRABOWO

Sering kali seseorang mengulang siklus ini: berdosa, bertobat, lalu kembali berbuat dosa hingga timbul kejenuhan dan keletihan.

Di saat itu, hati terasa sempit dan takut dirinya telah menjadi seorang munafik. Malangnya, sering kali setan mengembuskan waswas bahwa tobat kita hanyalah kedustaan sehingga menyeret kepada keputusasaan.

Mari kita mengingat kembali sabda Rasulullah: “Ada seorang hamba yang berbuat dosa lalu ia berkata: ‘Ya Rabbi, aku telah berbuat dosa, ampunilah aku.’ Lalu Allah berfirman: ‘Hambaku mengetahui bahwa ia memiliki Rabb yang mengampuni dosa.’ Lalu dosanya diampuni.

Dan berjalanlah waktu, lalu ia berbuat dosa lagi. Ketika berbuat dosa lagi ia berkata: ‘Ya Rabbi, aku telah berbuat dosa lagi, ampunilah aku.’ Lalu Allah berfirman: ‘Hambaku mengetahui bahwa ia memiliki Rabb yang mengampuni dosa.’ Lalu dosanya diampuni.

Dan berjalanlah waktu, lalu ia berbuat dosa lagi. Ketika berbuat dosa lagi ia berkata: ‘Ya Rabbi, aku telah berbuat dosa lagi, ampunilah aku.’ Lalu Allah berfirman: ‘Hambaku mengetahui bahwa ia memiliki Rabb yang mengampuni dosa.’ Lalu dosanya diampuni.

Lalu Allah berfirman: “Aku telah ampuni dosa hamba-Ku, maka hendaklah ia berbuat sesukanya.” (HR Bukhari).

Ibnu Rajab al-Hanbali pernah berkata, “Umar bin Abdul Azizi berkata, ‘Wahai manusia, barang siapa yang berkubang dalam dosa, maka beristighfarlah kepada Allah dan bertobat. Kalau kembali (berdosa), maka memohonlah ampun kepada Allah dan bertobat. Kalau kembali lagi, hendaknya beristighfar dan bertobat. Karena sesungguhnya ia adalah kesalahan-kesalahan dibelitkan di pundak seseorang. Sesungguhnya kebinasaan ketika terus-menerus (melakukannya). (Jami’ul Ulum wal Hikam).

Adapun tiupan waswas untuk berputus asa, simak perkataan Hasan al-Basri ini, “Apakah salah satu di antara kami tidak merasa malu dari Rabb-Nya, memohon ampunan dari dosa-dosanya kemudian diulangi lagi, beristighfar kemudian diulangi lagi? Beliau [Hasan al-Basri] mengatakan, ‘Setan berharap kalau menang dari kamu semua dengan ini, maka jangan bosan dengan istighfar.”

Dan tatkala datang ketakutan bahwa hati telah munafik, maka bergembiralah, sebab Hasan al-Basri pun pernah berkata, “Orang yang khawatir terjatuh pada kemunafikan, itulah orang mukmin. Yang selalu merasa aman dari kemunafikan, itulah senyatanya munafik.” (Jami’ul ‘Ulum wal Hikam).

Di atas semua itu, mari hafalkan dan terus ingat akan firman Allah, “Katakanlah, ‘Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang.’” (QS az Zumar: 53).

Terus bertobat, beristighfar, dan jangan pernah sekali pun terlintas di benak untuk berputus asa meski air mata telah mengering.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *