Teman Sejati

Teman Sejati

Suatu ketika Bisyr bin al-Harits pernah menerima nasihat dari gurunya Kamaluddin bin al-Hammam. Begini pesannya, “Semua sahabat yang engkau tidak beroleh manfaat darinya, maka tinggalkanlah persahabatan tersebut.”

Bisyr lantas menanyakan apa tolok ukur teman itu bermanfaat atau tidak. Lalu gurunya menjawab, “Mengajarkan kebaikan kepadamu atau memberikan informasi tentang kebaikan kepadamu atau sungguh-sungguh berbuat baik kepadamu.”

Dari nasihat tersebut, kita bisa memahami teman sejati itu yang dapat mendatangkan manfaat kepada kita. Bukan bersifat materi, tapi kebaikan. Kalau ukurannya manfaat materi, ujung-ujungnya kita memanfaatkan atau dimanfaatkan orang lain.

Seperti pepatah bilang; ‘habis manis sepah dibuang’. Orang dekat dengan kita karena materi dan kekayaan. Begitu jatuh bangkrut jangankan menolong kita, dia bahkan seolah tidak pernah kenal.

Untuk itu teman sejati yang dapat mendatangkan manfaat sebagaimana nasihat di atas dapat dilihat dari tiga karakter yang melekat dalam dirinya.

Pertama, teman sejati adalah dia yang senantiasa mengajarkan kebaikan kepada kita.

Saat kita dekat dengannya tidak pernah berbicara menjelekkan orang lain, memuji diri sendiri, tapi lebih banyak bercerita tentang ilmu, bagaimana kehidupan diri, keluarga, dan masyarakat supaya menjadi lebih baik.

Teman sejati adalah yang senantiasa mengajak kita dekat ke masjid, menjalin silaturahim, gemar menolong sesama, dan tidak dendam atas perilaku buruk orang lain. Sebaliknya, bukan teman sejati jika mengajarkan untuk membenci hanya karena persoalan pribadinya.

Atau dia suka menghasut dengan begitu halus menyatakan kejelekan teman lain kepada kita, tapi dalam kesempatan lain dia menceritakan kejelekan kita pada teman tersebut.

Kedua, teman sejati adalah yang memberikan informasi yang baik-baik.
Dia tidak pernah mau menyebarkan informasi bersifat aib dan mempermalukan orang lain. Apalagi memprovokasi dan menfitnah seseorang yang dituduhnya begini dan begitu, padahal semua itu tidak pernah dilakukan orang tersebut.

Saat ini dengan media yang sangat canggih, orang begitu bebas menyebar informasi di media sosial tanpa mempertimbangkan efek negatifnya. Kalau sudah menjadi kebiasaan, bahkan orang yang melakukannya sedikit pun tidak merasa bersalah.

Ketiga, teman sejati adalah dia yang sungguh-sungguh berbuat baik kepada kita.

Bagaimana kita mengetahuinya? Lihatlah kepeduliannya saat kita mengalami masalah atau kesulitan. Teman yang baik adalah dia yang hadir ketika kita dirundung duka dan masalah.

Kalau di saat kita sedang dalam kondisi ekonomi mapan atau sedang menjabat, lalu banyak yang mendekat, itu biasa. Justru pada saat seperti ini banyak yang memuji dan patuh dengan perkataan kita karena kedekatannya tidak tulus, ada maksud tertentu. Artinya dia belum diyakini menjadi teman sejati.

Di mana kita tahu dia benar-benar teman? Saat kita tidak lagi menjabat atau tidak lagi sekaya sebelumnya, masihkah dia setia mendampingi dan membantu?

Kalau tidak berubah, itulah teman sejati. Ya begitulah, nanti kita akan tahu sendiri sifat teman-teman kita. Yang jelas, ada seribu teman tertawa, tapi mungkin hanya ada satu teman di kala duka.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *