Mulutmu,  Harimaumu.

Mulutmu, Harimaumu.

Kalimat tersebut mungkin tak asing lagi bagi kita, apa lagi pada zaman sekarang kalimat tersebut seringkali terdengar sebagai suatu kewaspadaan terhadap dampak yang akan kita rasakan apabila tak menjaga perkataan yang akan keluar melalui lisan kita atau jari kita.

Mengapa diibaratkan bagaikan harimau? Karena, seekor harimau terkenal akan terkamannya yang menakutkan, bisa kita bayangkan bagaimana apabila lisanmu sendiri menjadi seekor harimau yang akan menerkammu? Sungguh kejadian yang menakutkan bukan?

Maksudnya adalah agar kita selalu senantiasa menjaga lisan kita dalam setiap mengeluarkan perkataan yang baik, dan janganlah mengeluarkan perkataan buruk yang membuatmu akan binasa karena perkataanmu sendiri, dapat kita ketahui perkataan yang buruk tersebut seperti, berbicara yang sia-sia, berdusta, mengejek orang lain dan masih banyak lagi.

Tak sedikit kalam Allah dan hadits Nabi yang memerintahkan kita agar selalu senantiasa menjaga lisan. Seperti kata mutiara yang berbunyi “Manusia itu akan dinilai dari dua anggota tubuhnya yang paling kecil, yaitu “hati dan lidahnya.”

Hati dan lidah adalah dua hal yang saling berhubungan. Kedua anggota tubuh tersebut memang terlihat kecil, namun kedua anggota tubuh ini adalah sesuatu yang sangat berpengaruh pada pandangan (penilaian) seseorang terhadap kita, mengapa demikian?

Karena semua perkataan yang keluar dari mulut atau perkataan yang kita ucapkan sudah mampu menjadi penggambaran dari apa yang ada dalam hati kita. Apabila semua perkataan yang keluar adalah perkataan yang baik maka, tak diragukan lagi bahwa hatinya juga baik, begitu pula sebaliknya apabila perkataan yang kita keluarkan adalah sebuah perkataan yang buruk maka, hal itu dapat menggambarkan bagaimana kualitas hati kita.

So, jadilah seseorang yang selalu mengatakan perkataan yang baik dan benar sebagaimana firman Allah SWT, dalam QS. Al-Ahzab ayat 70 yang artinya: “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar.”

Dari ayat di atas telah jelas bahwa Allah SWT memerintahkan kita agar selalu senantiasa mengatakan perkataan yang benar. Allah memerintahkan kepada kita agar menjadi seseorang yang bertaqwa dan selalu mengatakan perkataan yang benar, perkataaan yang dapat mendatangkan pahala, perkataan yang dapat bermanfaat bagi orang lain, perkataan yang bisa menjadi sebuah motivasi.

Apabila perkataan yang kita keluarkan dapat merubah hidup seseorang maka kita akan mendapatkan sebuah pahala, dan apabila ia mengajarkan kepada orang lain maka InsyaAllah, Allah akan memberikan pahala kepada kita karena, perkataanmu menjadi sebuah amal jariyah, amal yang pahalanya tidak akan terputus hingga kapanpun. Sebaliknya, apabila kamu mengeluarkan perkataan yang buruk atau perkataan yang tidak baik, maka berhati-hatilah kamu akan perkataan yang akan mendatangkan malapetaka pada dirimu sendiri.

Oleh karena itu, marilah kita selalu senantiasa mengeluarkan perkataan yang baik. apabila kamu mengetahui perkataan yang kamu keluarkan akan sia-sia lebih baik kamu diamlah sebagaimana kata hadits Nabi yang artinya “Berkatalah dengan perkataan yang benar atau hendaklah ia diam.”

Mengenai hadits tersebut Imam Syafi’i ra. Menjelaskan bahwa, jika seseorang ingin mengatakan seseatu, maka hendaklah ia memikirkan terlebih dahulu apa yang hendak ia ucakan, jika kira-kira baik dan memiliki efek yang positif maka ucapkanlah, namun jika bahkan menimbulkan kegaduhan atau menyinggung orang lain, maka lebih baik ia simpan rapat-rapat dalam hatinya sendiri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *