Menjaga Jiwa, Menjaga Kehidupan

Menjaga Jiwa, Menjaga Kehidupan

Tidak ada yang lebih berharga dalam hidup selain kehidupan itu sendiri. Karena itu, tugas manusia adalah menjaga kehidupan dari segala hal dan upaya penghancuran, perusakan, dan pematian.Hal ini karena menjaga keselamatan jiwa (hifdzu an-nafs) merupakan salah satu kewajiban utama dalam beragama.

Kematian memang sesuatu yang alami dan pasti terjadi pada setiap makhluk hidup. Namun, itu adalah rahasia Ilahi yang tak diketahui siapa pun. Kewajiban manusia adalah tetap memastikan kehidupan berjalan, bukan mengakhirinya dengan kematian tanpa seizin Allah Yang Maha Mematikan (al-Mumit).

Hari-hari ini, umat manusia di seluruh dunia masih berjibaku menghadapi pandemi yang mematikan. Hampir satu juta orang telah meninggal dunia karenanya. Sebagiannya menjalani isolasi di tempat-tempat khusus dengan harap-harap cemas.

Sebagian lagi, kemungkinan besar telah terpapar, tetapi tanpa gejala sehingga rentan menularkan tanpa disadari. Untuk itu diimbau agar menjalankan protokol kesehatan, seperti memakai masker, sering cuci tangan, menjaga jarak, dan menjauhi kerumunan.

Sebelum dilakukan test swab, kita, dia, atau mereka tidak tahu pasti apakah sudah terpapar atau belum. Padahal seorang OTG dapat menularkan virus yang sangat membahayakan dan mengancam keselamatan orang lain.

Kematian demi kematian karena pandemi ini terus terjadi setiap hari. Beritanya dapat kita baca di media cetak, elektronik, portal-portal digital, atau kita dengar dari tetangga sekitar. Kita seperti hidup di tengah ancaman kematian yang mengintip dan siap menerkam kita bila Allah telah menghendaki atau sudah suratan takdir, seperti tertulis di Lauh Mahfuzh-Nya.

Sementara itu, obat belum ditemukan, tetapi pasti ada. Seperti ditegaskan Rasulullah, “Setiap penyakit ada obatnya. Jika cocok antara penyakit dan obatnya, niscaya akan sembuh dengan izin Allah.” (HR Muslim).

Tak ada manusia yang ingin mati karena pandemi. Mereka ingin tetap hidup dan bertahan. Usaha keras para tenaga kesehatan (nakes) yang merawat pasien belum cukup bila kita mengabaikan protokol kesehatan seperti direkomendasikan. Mengabaikan protokol ini berarti sama saja dengan tidak menghargai kehidupan diri sendiri dan orang lain.

Dalam ilmu usul fikih, ada kaidah; la dharara wala dhirara (jangan membahayakan diri sendiri dan membahayakan orang lain). Ini adalah prinsip penting dalam hidup agar kehidupan terus berjalan dengan baik. Maka mematuhi protokol kesehatan merupakan sesuatu yang wajib dilakukan. Memakai masker, mencuci tangan, menghindari kerumunan sebagai ikhtiar menyelamatkan jiwa sendiri dan orang lain.

Kehidupan memang tak selalu baik seperti yang kita mau. Selalu ada masalah yang muncul dan sesungguhnya sebagian besar justru disebabkan oleh ulah manusia itu sendiri yang serakah atau punya motif terselubung yang tak diketahui siapa pun kecuali kelompoknya.

Kewajiban orang beriman adalah menjaga hidup, sehingga upaya-upaya atau ikhtiar apa pun untuk tetap hidup harus dilakukan. Menjaga kehidupan juga adalah bentuk syukur kita kepada Allah yang telah memberi kita hidup dan kesempatan untuk mengenal-Nya, mendekati-Nya, dan beramal saleh untuk meraih ridha-Nya, serta menciptakan kemaslahatan di dunia. Untuk menjaga kehidupan, perlu partisipasi dan kerja sama semua orang. (QS al-Ma’idah [5]: 2).

Membantu orang sakit agar sembuh adalah salah satu bentuk saling menolong dalam kebaikan. Termasuk, mengikuti protokol kesehatan demi menjaga diri dan orang lain dari jatuh sakit yang bisa mengakibatkan meninggal dunia. Wallahu a’lam.

*Fajar Kurnianto, Hikmah Republika

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *