Sedekah di Waktu Sempit

Sedekah di Waktu Sempit

Sungguh, kondisi sosial dan ekonomi masyarakat Indonesia akibat pandemi Covid-19 belum membaik. Walaupun pelonggaran pembatasan sosial berskala besar (PSBB) mulai dilakukan, roda kehidupan belum pulih seperti sedia kala. Sampai saat ini, kesusahan hidup masih terus melanda sebagian besar penduduk negeri. Belakangan, muncul kecemasan manakala memasuki new normal (kenormalan baru), protokol kesehatan akan diabaikan sehingga bisa memunculkan gelombang baru penularan virus yang mematikan ini.

Islam mengajarkan kepada umatnya untuk membangun harmoni dengan sesama. Sebab, Islam diturunkan dengan sempurna dalam mengatur tatanan kehidupan manusia di muka bumi. Sejatinya, bukan hanya keharmonisan dengan manusia (hamblun minannas), akan tetapi dilandasi harmoni dengan Allah SWT (hablun minallah) yang berbuah kemesraan terhadap lingkungan alam (hablum minal ‘alam). Ketiganya merupakan kesatuan yang tak bisa dipisahkan dan mesti dijaga keseimbangannya. (QS 3: 112).

Untuk menjaga keharmonisan tersebut, kita harus menumbuhkan kepedulian sosial. Sepatutnya disadari bahwa pencapaian yang diraih bukan hanya untuk dinikmati sendiri dan keluarga, melainkan juga orang lain, terutama fakir miskin dan kaum kerabat.

Istilah sedekah dalam agama artinya tidak hanya sebatas membagikan harta bendawi sehingga bisa dimonopoli kalangan berada (aghniya). Dalam bahasa lain, sedekah adalah upaya berbagi kebaikan dengan mengoptimalkan kemampuan diri agar seseorang merasa lega telah berbagi kebahagiaan.

Secara teoretis, al-birr (kebajikan) dalam Islam terdiri dari dua jenis, yakni: al-birr terkait dengan Allah SWT, dan al-birr terkait dengan sesama. Al-birr terkait dengan Allah SWT yakni beriman kepada-Nya, melaksanakan perintah-Nya, dan menjauhi larangan-Nya. Sementara, al-birr terkait dengan sesama adalah husnulkhuluq, yakni banyak bederma dan tidak mengganggu sesama atau menampakkan kemuliaan pribadi.

Agama bukan hanya mendorong kita menjadi orang benar, melainkan juga orang baik. Jika orang benar mengeluarkan yang bukan miliknya, orang baik memberikan sebagian milikya kepada orang lain (sedekah). Jika orang yang berzakat akan meraih ketenangan, orang yang bersedekah mendapat kebahagian. Sebab, orang yang berzakat mengeluarkan yang bukan miliknya sehingga hati dan hartanya bersih.

Sementara, orang yang bersedekah mampu memberikan sebagian miliknya kepada orang yang lebih susah hidupnya. Jika orang yang berzakat lebih memikirkan dirinya, orang yang bersedekah justru lebih memikirkan nasib orang lain.

Lalu, sedekah apa yang paling yang lebih tinggi nilainya (afdhal)? Sedekah itu ada dua macam, yakni; sedekah biasa dan luar biasa. Sedekah biasa diberikan pada saat lapang dan rutin dilakukan. Adapun sedekah luar biasa, justru diberikan pada waktu susah atau kekurangan. Inilah sedekah yang paling tinggi ganjarannya.

Alquran menyebutkan bahwa tanda orang bertakwa itu mampu berinfak di waktu lapang dan sempit (QS 3: 134, 65: 7). Orang yang bersedekah di waktu lapang itu biasa. Tetapi, bersedekah di waktu susah itu luar biasa.

Suatu ketika, Nabi Muhammad SAW berpesan kepada para sahabatnya, “Satu dirham dapat mengungguli seratus ribu dirham.” Lalu, ada yang bertanya, “Bagaimana itu bisa terjadi wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Ada seseorang yang memiliki dua dirham, lalu mengabil satu dirham untuk disedekahkan. Ada pula orang yang memiliki harta banyak sekali, lalu ia mengambil seratus ribu dirham untuk disedekahkan.” (HR Na-Nasai).

Akhirnya, jika ingin meraih ketenangan maka berzakatlah. Jika ingin mendapat kebahagiaan maka bersedekahlah. Jika ingin keduanya, berzakat dan bersedekahlah di waktu lapang dan susah. Tiada lain, semata-mata mengharap ridha Allah SWT. Allahu a’lam bish-shawab.

Oleh : Hasan Basri Tanjung, Hikmah Republika

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *