Istiqamah itu Berat

Istiqamah itu Berat

Dalam Al-Quran Allah berfirman

إِنَّ ٱلَّذِينَ قَالُوا۟ رَبُّنَا ٱللَّهُ ثُمَّ ٱسْتَقَٰمُوا۟ تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ ٱلْمَلَٰٓئِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا۟ وَلَا تَحْزَنُوا۟ وَأَبْشِرُوا۟ بِٱلْجَنَّةِ ٱلَّتِى كُنتُمْ تُوعَدُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang berkata, ‘Tuhan kami adalah Allah,’ kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka (istiqamah) maka malaikat-malaikat akan turun kepada mereka (dengan berkata), ‘Janganlah kalian merasa takut dan janganlah kalian bersedih hati dan bergembiralah kalian dengan (memperolah) surga yang telah dijanjikan pada kalian.'” (QS Fussilat [41]: 30).

Ayat tersebut menjelaskan dampak istiqamah dalam keimanan kepada Allah. Orang yang istiqamah dengan keyakinannya bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan ia melaksanakan semua perintah-Nya dan menjauhi semua larangan- Nya, niscaya ia akan mendapatkan beberapa keistimewaan.

Di antaranya ialah mendapat kabar gembira dari malaikat bahwa ia tidak perlu takut atau bersedih hati, kapan pun dan dimanapun, baik di dunia maupun akhirat. Orang itu juga akan memperoleh kabar gembira bahwa ia mendapat jaminan surga dari Allah SWT, yakni surga yang sesuai dengan yang dijanjikan Allah kepadanya. Surga yang segala kenikmatan dan kebaikan ada di dalamnya.

Kemudian, Allah melanjutkan janjinya kepada orang itu, “Kamilah pelindung-pelindung kalian dalam kehidupan dunia dan akhirat; di dalamnya (surga) kalian memperoleh apa yang kalian inginkan dan memperoleh apa yang kalian minta. Sebagai penghormatan (bagi kalian) dari (Allah) Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS Fussilat [41]: 31-32).

Allah akan menjadi pelindung bagi orang yang istiqamah dengan keyakinannya, baik ketika ia masih di dunia maupun ketika ia sudah berada di alam akhirat. Melindunginya dari marabahaya, membantunya dalam segala hal, bahkan menyayanginya melebihi kasih sayang seorang ibu kepada bayinya.

Kunci untuk mendapat berbagai keistimewaan itu adalah istiqamah dalam keimanan. Istiqamah berasal dari bahasa Arab yang akar katanya terdiri atas huruf qaf, wawu, dan mim, yang bisa berarti ‘tegak lurus, sikap teguh pendirian, konsekuen, tetap dalam pendirian, lurus, dan benar’.

Jadi, istiqamah tidak hanya dikhususkan untuk orang yang sudah kuat dalam pendiriannya tetapi juga mencakup orang yang sedang berusaha untuk menjadi orang yang kuat pendiriannya.

Memang betapa beratnya bersikap istiqamah, sehingga manusia tidak akan mampu melakukannya dengan sempurna. Tak mengherankan memang, karena keimanan setiap Mukmin “terkena” hukum yaziidu wa yanqus, akan bertambah dan berkurang; naik dan turun. Boleh jadi, ada saat-saat iman kita sedang naik, sehingga bersemangat dalam ibadah. Tapi, ketika iman sedang menurun, semangat beribadah pun menjadi lemah.

Dalam Islam, penurunan semangat beribadah ini disebut futur. Pada stadium rendah, futur bisa muncul berupa perasaan malas beribadah, melambat-lambatkan berbuat baik, atau kurang peka terhadap peluang amal. Dalam stadium tinggi (kronis), kondisi futur menyebabkan seseorang berhenti beribadah, melakukan dosa besar, hingga akhirnya jauh dari Allah SWT.

Walau kemungkinan terkena futur sangat besar, tapi kita dianjurkan untuk tetap berlaku istiqamah dalam kebenaran sesuai kemampuan diri. Allah SWT telah menyediakan perangkat-perangkat dalam diri sehingga kita mampu mengikuti Rasulullah SAW, dengan standar dan kemampuan kita. Kalau tidak bisa semuanya, maka sebagian harus kita perjuangkan. Contoh, Rasul bisa qiyamullail semalam sentuk sampai kakinya bengkak; bila kita tak mampu seperti itu, minimal kita tidak sampai meninggalkannya.

Orang yang istiqamah dalam keimanannya adalah orang yang berusaha tetap teguh menjaga keyakinan akan keesaan Allah, tetap kokoh de ngan keyakinannya akan kebenaran agamanya, lalu mengikrarkannya dengan lisan, dan mem prak tikkannya dalam laku perbuatan sehari-hari.

Keimanan yang selalu dilanggengkan seperti ini yang Rasulullah ajarkan kepada sahabatnya,

عَنْ أَبِيْ عَمْرٍو، وَقِيْلَ، أَبِيْ عَمْرَةَ سُفْيَانَ بْنِ عَبْدِ اللهِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قُلْتُ يَارَسُوْلَ اللهِ قُلْ لِيْ فِي الإِسْلامِ قَوْلاً لاَ أَسْأَلُ عَنْهُ أَحَدَاً غَيْرَكَ؟ قَالَ: “قُلْ آمَنْتُ باللهِ ثُمَّ استَقِمْ” رَوَاهُ مُسْلِمٌ

Dari Abu ‘Amr—ada yang menyebut pula Abu ‘Amrah—Sufyan bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Aku berkata: Wahai Rasulullah katakanlah kepadaku suatu perkataan dalam Islam yang aku tidak perlu bertanya tentangnya kepada seorang pun selainmu.” Beliau bersabda, “Katakanlah: aku beriman kepada Allah, kemudian istiqamahlah.” (HR. Muslim) 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *