Senja Kala Wabah

Senja Kala Wabah

Seburuk apa pun wabah, sejarah menunjukkan bahwa ia akan berakhir. Segala sesuatu, menurut Ibn Khaldun, jika telah mencapai kesempurnaannya maka ia akan menemui penurunannya.

Gelapnya malam ada pada saat-saat menjelang fajar. Bukan saja wabah, manusia dan dunianya tidaklah kekal. Seseorang tidaklah mungkin selalu dalam kondisi sempit sebagaimana mustahil ia selalu berada dalam kelapangan.

Wabah menimpa warga dunia, siapa pun ia. Meski masing-masing memiliki konteks keseharian yang berbeda, secara umum sebagai manusia, kebahagiaan, kepedihan, dan kekhawatiran manusia sama: kesehatan, keluarga, sumber penghidupan, studi atau karier, dan tentu kehidupan selepas kematian.

Jika wabah pasti berakhir—insya Allah—maka hal mendesak untuk dilakukan bukanlah mengandai kapan senja kala wabah ini tiba, melainkan menggiatkan peribadatan kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Di antara ibadah yang ditekankan dalam kondisi sulit akibat berlarutnya wabah adalah tobat dan istighfar.

Ibnu ‘Abbas pernah berkata bahwa musibah hanya turun karena dosa dan tidaklah ia hilang kecuali dengan tobat. Ucapan ahli bait tersebut selaras dengan penggalan firman Allah: “Dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Tuhanmu dan bertobat kepada-Nya, niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik (terus-menerus) kepadamu sampai kepada waktu yang telah ditentukan.” (QS Hud: 13).

Masih dalam surah Hud, Allah kembali berfirman: “Dan (dia berkata): ‘Hai kaumku, mohonlah ampun kepada Tuhanmu lalu bertobatlah kepada-Nya, niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat deras atasmu, dan Dia akan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu, dan janganlah kamu berpaling dengan berbuat dosa.’” (QS Hud: 52).

Jika wabah ini adalah bagian dari siksa Allah, dengan istighfar itu kita dapat terhindar darinya. Allah berfirman: “Dan Allah sekali-kali tidak akan mengazab mereka, sedang kamu berada di antara mereka. Dan tidaklah Allah akan mengazab mereka, sedang mereka meminta ampun (istighfar).” (QS al-Anfal: 33).

Wabah berdampak pada segala aspek keseharian, termasuk sumber penghidupan. Oleh karena itu, Rasulullah dalam hadis Abu Dawud dan termaktub dalam kitab Riyadhus Shalihin bersabda: “Barang siapa yang terbiasa istighfar, Allah akan menjadikan untuknya jalan keluar dari setiap kesempitan dan kesusahannya, dan diberi rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.”

Upaya maksimal untuk mendekat kepada Allah tidak menafikan sebab-sebab dunia, seperti menjalankan protokol kesehatan dan berupaya produktif dengan segala keterbatasan.

Di atas semua itu, tetap menjaga asa hingga wabah menemui senja kala, bahwa Allah tidak akan membebani seseorang di luar kesanggupannya dan di pengujung kesulitan ada kemudahan-kemudahan merupakan bagian dari baik sangka kepada Allah. Wallahu a’lam.

*Wisnu Tanggap Prabowo, Hikmah Republika

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *