Tanda Kerendahan Hati

Tanda Kerendahan Hati

Sejatinya, manusia diciptakan Allah SWT disertai dua potensi sekaligus, yakni kebaikan (takwa) dan keburukan (fujur). Kedua potensi tersebut saling mendominasi satu sama lain untuk memengaruhi kata, sikap, dan perbuatan manusia.

Orang yang mampu menjaga potensi ketakwaannya akan tumbuh berkembang menjadi orang yang beruntung. Namun, orang yang dikendalikan hawa nafsu kedurhakaan akan dibalut kemaksiatan dan menjadi orang yang merugi (QS 91:7-10).

Kerendahan hati (tawadhu) merupakan wujud dari kesanggupan manusia menjaga potensi baik dalam hatinya (QS 26: 88-89). Kebalikannya adalah ketinggian hati (takabur) akibat gagal menata potensi baik sehingga diselimuti ragam penyakit kejiwaan (QS 2:10). Kerendahan hati bukanlah rasa tak percaya diri (inferiority complex) akibat kesulitan beradaptasi dengan lingkungan.

Baginda Nabi SAW berpesan, “Tidaklah berkurang harta karena sedekah, tidaklah Allah menambah pada seseroang yang memberi maaf kecuali kemuliaan, dan tidaklah seorang hamba yang rendah hati karena Allah melainkan akan diangkat derajatnya.” (HR Muslim). Orang-orang yang rendah hati disebut sebagai hamba-hamba Allah yang disayangi (‘ibadur rahman) yang berjalan di bumi dengan rendah hati dan menjawab setiap ujaran kebencian yang dilontarkan para haters dengan kedamaian (QS 25:63).

Prof Buya Hamka dalam Tafsir al-Azhar menjelaskan karakter ibadur rahman tersebut, “…. Dia adalah laksana padi yang berisi, sebab itu ia tunduk. Dia tunduk kepada Tuhan karena insaf akan kebesaran Tuhan dan ia rendah hati terhadap sesamanya karena ia pun insaf bahwa ia tidak akan sanggup hidup sendiri di dalam dunia ini. Dan bila dia berhadapan dengan orang yang bodoh dan dangkal pikiran, tidaklah ia lekas marah, tetapi disambutnya dengan baik.”

Kerendahan hati akan tampak pada ucapan, sikap, dan tindakan ketika dihadapkan pada situasi yang tidak menyenangkan. Nabi SAW bersabda, “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah dia berkata yang baik atau diam” (HR Bukhari Muslim).

Perkataan yang baik adalah refleksi kerendahan hati yang mengalir dari ketulusan yang seirama dengan perbuatan. Ada empat perkataan baik sebagai tanda kerendahan hati.

Pertama, meminta maaf di saat tak merasa salah. Jika meminta maaf karena bersalah, itu adalah keharusan.

Kedua, berterima kasih ketika mendapatkan perlakuan yang tak menyenangkan. Berterima kasih di saat mendapatkan perlakuan buruk adalah tanda kerendahan hati (QS 3: 134).

Ketiga, meminta tolong ketika bisa menyuruh. Seorang atasan bisa memerintah bawahan untuk melakukan sesuatu. Ketika ia minta tolong, itu tanda kerendahan hati.

Keempat, memohon doa pada saat mampu melakukan. Tetap mohon doa ketika mampu menyelesaikan sendiri adalah tanda kerendahan hati.

Walhasil, empat tanda kerendahan hati tersebut mudah diucapkan jika sekadar basa-basi atau hiasan bibir demi pencitraan. Akan tetapi, terasa berat manakala berhadapan dengan kenyataan yang tak diharapkan. Ilmu dan pencapaian mestilah menjulang tinggi, tetapi hati harus tetap menapak di bumi. Wallahu a’lam bish-shawab.

Hasan Basri Tanjung, Hikmah Republika

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *