Aktualisasi Sikap Sabar

Aktualisasi Sikap Sabar

Kehidupan ini penuh dengan liku-liku dan sarat dengan dinamika. Ada saatnya mendapatkan nikmat dan kalanya ditimpa kesusahan atau musibah. Senang dan susah silih berganti seiring gerak langkah manusia setiap hari. Ini adalah hukum alam (sunatullah).

Menghadapi hal seperti ini harus sesuai dengan ketentuan yang telah digariskan oleh Alquran. Tatkala mendapat nikmat dan bahagia, manusia harus bersyukur. Sebaliknya, apabila mendapat kesusahan atau musibah seyogianya bersikap sabar.

Sabar itu teguh hati tanpa mengeluh dari derita bencana. Sabar berarti tahan menderita dan menerima apa yang tidak disenangi dengan ridha dan ikhlas serta berserah diri kepada Allah. Sabar bisa membentuk jiwa manusia menjadi kuat, teguh, dan hatinya tabah. Jiwanya tidak bergoncang, tidak gelisah, tidak panik, tidak berubah pendiriannya, dan tidak hilang keseimbangan ketika menghadapi bencana atau musibah.

Berlaku sabar itu diperintahkan oleh Allah SWT dalam Alquran surah ar-Rum ayat 60. Selain itu, Rasulullah bersabda, “Sabar itu separuh iman.” (al-hadis). Mengingat betapa pentingnya sifat sabar ini maka sabar harus diaktualisasikan atau diterapkan dalam segala bidang kehidupan.

Pertama, sabar dalam beribadah.

Tekun mengendalikan diri dalam melaksanakan syarat-syarat beribadah. Menurut Imam al-Ghazali, “Ibadah itu perlu dengan niat yang suci dan ikhlas, semata-mata beribadah karena taat kepada Allah, tidak lalai memenuhi syarat-syarat, dan tidak ria.”

Kedua, sabar ditimpa malapetaka.

Bentuknya berupa kemiskinan, kematian, kecelakaan, diserang penyakit, dan lain-lain. Apabila malapetaka itu tidak dihadapi dengan kesabaran, akan terasa tekanannya terhadap jasmani maupun rohani.

Ketiga, sabar terhadap kehidupan dunia.

Jangan sampai terpaut hati kepada kenikmatan hidup di dunia. Dunia ini adalah jembatan untuk kehidupan yang abadi di akhirat. Banyak orang terpesona terhadap kemewahan hidup di dunia. Dilampiaskan hawa nafsunya, hidupnya berlebih-lebihan, rakus, dan tamak. Pada gilirannya tidak memedulikan mana yang halal, mana yang haram, dan terkadang merugikan orang lain.

Keempat, sabar terhadap maksiat.

Mengendalikan diri supaya tidak melakukan perbuatan maksiat. Sabar terhadap maksiat ini bukanlah mengenai diri sendiri saja, tetapi juga mengenai diri orang lain. Berusaha supaya orang lain jangan sampai terperosok ke jurang kemaksiatan, dengan melakukan amar makruf nahi mungkar.

Kelima, sabar dalam perjuangan.

Menyadari sepenuhnya bahwa setiap perjuangan mengalami masa naik dan jatuh, masa menang dan kalah. Apabila perjuangan belum berhasil atau sudah nyata mengalami kekalahan, hendaklah bersikap sabar. Sabar dalam arti tidak putus asa, tidak patah semangat, berusaha menyusun kekuatan kembali, melakukan introspeksi diri tentang penyebab kekalahan dan menarik pelajaran dari kekalahan tersebut.

Jika perjuangan berhasil atau menang, harus pula sabar mengendalikan emosi buruk yang biasanya timbul sebagai akibat dari kemenangan itu. Misalnya sombong, congkak, dan tinggi hati. Akhirnya, dengan menerapkan sikap sabar maka akan memperoleh karunia, kasih sayang, dan petunjuk Allah. Pada gilirannya akan mencapai puncak kebahagiaan.

Sukmana, Hikmah Republika

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *