Rahasia Pasrah

Rahasia Pasrah

Banyak sekali ayat-ayat Alquran yang mengupas soal surrender atau dalam bahasa agama disebut tawakal. Sikap ini dipahami hanya efektif dilakukan setelah ikhtiar.

Jika tawakal dilakukan sebelum berikhtiar, sama saja mimpi di siang bolong. Begitu juga jika seseorang hanya berikhtiar saja, tanpa kepasrahan, ia akan berujung pada kekecewaan.

Mengapa? Sebab, kepasrahan adalah kekuatan ketika (syaratnya) dibalut dengan keimanan. Kita bisa simak kisah Nabi Musa (QS Yusus: 84-85), Nabi Hud (QS Hud: 54-56), Nabi Yakub (QS Yusuf: 67) yang menjelaskan hal ini. Bahkan, mereka yang pasrah akan diberi kemenangan (QS al-Ankabut: 58-60; QS an-Nahl: 41-42). Bukti tersebut memberikan keyakinan kepada kita bahwa pasrah adalah kekuatan tertinggi dan menjadi senjata orang beriman.

Akhir-akhir ini, kita banyak sekali disuguhi informasi di koran dan media sosial tentang banyaknya rasa kecewa, marah, sesal, dan sejenisnya. Sebab, harapan dan hasil bagai langit dan bumi. Kekecewaan itu sering membawa amarah yang mengakibatkan kerusakan sehingga sering kali menyebabkan kondisi malah makin memburuk, bukan lebih baik. Ini yang kita ingin hindari bersama.

Apa pun alasannya, kemarahan (apalagi menimbulkan kerusakan) itu tidak menyelesaikan masalah, bahkan berpotensi menimbulkan masalah baru. Dari sinilah kita bisa belajar tentang makna kepasrahan sebagai sebuah kekuatan. Dari sinilah pula kita belajar tentang keyakinan seorang hamba kepada Tuhannya.

Tanpa kepasrahan, sulit rasanya kita berharap ada perubahan. Pasrah di sini diartikan sebagai keyakinan bahwa hasil tak akan pernah mengkhianati proses; orang yang bersungguh-sungguh (dalam hal apa pun) akan mendapatkan hasil yang maksimal.

Belief system ini harus ada di dalam pola kita berkehidupan sehari-hari. Dengan bahasa lain, sulit rasanya berharap ada kepasrahan kepada-Nya (dalam hal apa pun) jika tidak memiliki keimanan yang kuat. Inilah yang belakangan sering alpa di sekitar kita. Bagaimana mungkin bisa pasrah jika iman lemah?

Bagaimana bisa pasrah jika keyakinan rapuh. Akibatnya, ketika harapan dan hasil berbeda, marah adalah solusinya. Padahal, tugas kita sebagai manusia hanyalah memaksimalkan ikhtiar. Hasil itu prerogatif Tuhan.

Oleh karena itu, penting sekali membangun kesadaran bahwa manusia tidak memiliki wewenang apa pun untuk menentukan apa yang dikehendakinya. Karena manusia hanya mampu membuat rencana, sementara hasilnya harus dikembalikan kepada Allah Yang Maha Kuasa.

Seperti makna dari ayat ini: “Jika Allah menolong kamu maka tidak ada seorang pun yang dapat mengalahkanmu, tetapi jika Allah membiarkan kamu (tidak memberi pertolongan) maka siapa yang bisa menolongmu setelah itu? Karena itu, hendaklah hanya kepada Allah saja orang-orang mukmin bertawakal.” (QS Ali Imran: 160).

Oleh karena itu, tugas kita adalah memaksimalkan ikhtiar, memantaskan tindakan, dan meluruskan niat. Dengan pola keyakinan seperti itu, kita bisa menjadikan sikap pasrah sebagai wujud kekuatan iman kita. Sebab, “Cukuplah Allah bagi kami dan Dialah sebaik-baik pelindung.” (QS Ali Imran: 74). Wallahu a’lam.

OLEH ABDUL MUID BADRUN

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *