Lapar, Sakit, dan Kematian yang Justru Disukai Sahabat Rasul

Lapar, Sakit, dan Kematian yang Justru Disukai Sahabat Rasul

Abu Dzar Al-Ghifari sahabat Rasulullah justru menyukai 3 perkara ini.

سأل أبا ذر الغفاري: وأنت يا أبا ذر: ماذا تحب في الدنيا؟ قال أبو ذر: أحب في الدنيا ثلاثًا: الجوع، والمرض، والموت، فقال له ذاكرًا صلى الله عليه وسلم: ولم؟ فقال أبو ذر: أحبُّ الجوع؛ ليرقَّ قلبي، وأحب المرض؛ ليخف ذنبي، وأحب الموت؛ لألقى ربي

Abu Dzar al Ghifari adalah salah seorang sahabat Rasulullah SAW dari suku Ghifar, yang kualitas keimanannya diakui oleh nabi dan para sahabat. Hal ini terbukti pada awal dia masuk Islam, di mana orang lain masuk Islam dengan sembunyi-sembunyi, sementara dia dengan terang-terangan. Bahkan, dia mengucapkan kalimat syahadat serta memproklamasikan diri sebagai seorang Muslim di hadapan orang-orang kafir Quraisy yang tengah berkumpul di Kabah, sehingga dia dikeroyok sampai babak belur.

Suatu ketika, dia ditanya oleh Rasulullah SAW tentang apa yang disenanginya di dunia ini. Abu Dzar menjawab, ”Tidak ada yang aku senangi, kecuali tiga perkara, yaitu ketika aku ingat mati, ketika aku lapar, dan ketika aku sakit.”

Jawaban Abu Dzar tentunya mengundang keanehan bagi kebanyakan manusia lain. Karena, siapa orang yang suka mengingat mati? Siapa pula orang yang suka lapar? Dan, siapa yang suka rasa sakit?

Kemudian, Nabi bertanya lagi karena beliau tahu bahwa sahabatnya itu tidak mungkin menjawab seperti itu tanpa alasan. ”Mengapa kamu menyukai tiga perkara itu, sedangkan kebanyakan manusia membencinya?”

Dia menjawab, ”Aku suka mengingat mati. Karena, dengan mengingatnya, hatiku akan lunak, tidak akan keras bagaikan batu, dan akan mengantarku untuk selalu beramal sebelum kematianku datang. Aku menyukai rasa lapar.

Karena, dia menumbuhkan jiwa sosialku, bagaimana mungkin aku akan merasakan pahitnya lapar yang diderita orang lain, sedangkan perutku kenyang? Dengan kenyang, aku akan menjadi pemalas. Sementara itu, rasa sakit akan membuat aku sadar terhadap kelemahanku di hadapan Allah SWT, tidak pantas sombong dan takabur, serta mengakui keagungan-Nya dengan sepenuh hati.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *