Keluarga Bertakwa

Keluarga Bertakwa

OLEH MUHAMMAD KOSIM

Allah SWT berfirman: “Peliharalah dirimu dan keluargamu dari siksa api neraka.” (QS at-Tahrim [66]: 6). Kata quu (peliharalah) seakar dengan kata takwa yang mengandung makna wiqayah, berarti memelihara.

Dalam surah an-Nisa’ [4] ayat 9, juga Allah ingatkan agar waspada lahirnya generasi lemah (dzurriyatan dhi’afa), solusinya: fattaqullah (maka bertakwalah kepada Allah).

Idealnya, keluarga menjadi lembaga pendidikan informal agar bertakwa. M Ashaf Shaleh dalam karyanya Takwa: Makna dan Hikmahnya dalam Alquran menjelaskan beberapa ayat Alquran yang mengandung kata la’allakum tattaqun (agar kamu bertakwa) dan la’allahum yattaqun (agar mereka bertakwa). Dari ayat-ayat ini, ia simpulkan tujuh upaya untuk membentuk sikap takwa.

Jika dibawa ke dalam pendidikan, delapan hal itu menjadi upaya penting mendidik berkeluarga.

Pertama, mengkaji Alquran (QS Thaha [20]: 113 dan al-Zumar [39]: 27-28). Setiap keluarga Muslim seharusnya memiliki agenda harian untuk mengkaji Alquran, paling tidak membacanya sehingga berdampak positif terhadap ketenangan batin (sakinah) dan keharmonisan dalam rumah tangga.

Kedua, berpegang teguh dan melaksanakan isi kandungan Alquran (QS al-Araf [7]: 171 dan al-Baqarah [2]: 63). Alquran tidak sekadar dibaca, tapi juga konsisten mengamalkan kandungannya. Maka, keluarga Muslim ideal akan terus belajar memahami kandungan Alquran untuk diamalkan.

Ketiga, mengesakan Allah (QS al-An’am [6]: 51). Pendidikan pertama yang diberikan orang tua terhadap anak adalah pendidikan tauhid, seperti kumandang azan di hari kelahirannya. Nasihat utama Luqman pada anaknya yang diabadikan Alquran juga pendidikan tauhid: jangan menyekutukan-Nya (QS Luqman [31]: 13). Bahkan, hingga di usia tua menjelang kematiannya, Nabi Ya’kub tetap mendidik anak-anaknya agar tetap berakidah yang benar. (QS al-Baqarah [2]: 133).

Keempat, mengingat perintah Allah (QS al-An’am [6]: 69). Mengingat perintah Allah sebagai salah satu cara untuk membangun kesadaran diri agar menjalankan perintah dan menjauhi larangan-Nya. Dalam konteks inilah zikir harus diperbanyak, perintah-perintah Allah harus diketahui, diingat lalu diamalkan.

Kelima, istiqamah di jalan Islam (QS al-An’am [6]: 153). Orang tua harus mendisiplinkan diri dan anaknya menjadi istiqamah dalam berkata dan berbuat sesuai ajaran Islam. Mesti berpegang teguh. Tak boleh ragu atau mematuhi ayat tertentu lalu mengabaikan ayat lainnya.

Keenam, beribadah kepada Allah (QS al-Baqarah [2]: 21). Harus dipastikan setiap anggota keluarga beribadah kepada Allah. Rasulullah SAW memerintahkan orang tua menyuruh anaknya mendirikan shalat saat berusia 7 tahun. Tanpa keteladanan dari orang tua, tentu sulit menyadarkan si anak untuk shalat.

Ketujuh, melaksanakan puasa (QS al-Baqarah [2]: 183). Puasa Ramadhan sesungguhnya memperkuat keharmonisan keluarga. Puasa juga bermakna menahan diri. Kesetiaan, perhatian, kepedulian, dan kasih sayang akan muncul dari pribadi seseorang yang mampu mengendalikan diri dan nafsunya.

Mari berupaya membentuk keluarga bertakwa sehingga terbentuk pula bangsa yang bertakwa. Allah janjikan keberkahan pasti dilimpahkan (Al-A’raf [7]: 96). Wallahu a’lam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *