Karunia Syukur

Karunia Syukur

Alkisah. Suatu ketika, seorang laki-laki mendatangi ulama bijak untuk mengeluhkan kefakiran dan berbagai kemalangan hidup. Ulama tersebut diam seraya menyimak keluhan laki-laki itu.

“Apakah kamu mau penglihatanmu diambil Allah dan diganti dengan seribu dinar?” tanya ulama itu. “Tidak,” jawab laki-laki itu.

Laki-laki itu pun ditanyanya lagi, “Apa kamu mau menjadi orang bisu dengan imbalan seribu dinar?” Laki-laki itu menjawab, “Tidak.” Ulama pun bertanya kembali, “Apa kamu mau jadi orang gila dengan upah seribu dinar?” Maka, laki-laki itu pun menjawabnya, “Tidak.”

Ulama bijak itu kemudian berkata, “Jika demikian, apa kamu tidak malu kepada Allah yang telah memberimu karunia yang nilainya melebihi puluhan ribu dinar, namun kau terus saja mengeluh dan tak mau bersyukur?”

Adalah kekeliruan yang sangat jika kita menyangka bahwa yang disebut nikmat hanya sebatas materi dan sesuatu yang bersifat lahiriah. Atau, bahwa yang disebut nikmat adalah apa yang kita minta atau kita harapkan, kemudian terwujud. Padahal tidak demikian. Nikmat dan karunia Allah meliputi banyak hal, baik yang bersifat lahiriah maupun batiniah, baik yang kita minta maupun yang tidak kita minta.

Sebab, nikmat yang Allah berikan kepada kita pada dasarnya bukan berdasar atas permintaan kita, melainkan karena Allah Maha Tahu bahwa nikmat itu memang kita perlukan sesuai kebutuhan kita. Namun, hal itu kerap tidak disadari sehingga banyak karunia Allah yang tanpa kita sadari kita menikmatinya.


Ketidaksadaran itulah yang membuat kita lalai bersyukur. Kita hanya berfokus pada apa yang kita minta, tapi lalai pada apa yang ada. Allah SWT sendiri mengingatkan, “Dan kenyataannya, hanya sedikit di antara hamba-hamba-Ku yang mau bersyukur.” (QS Saba’ [34]: 13).

Memang manusia seolah tak pernah bisa bersyukur atas apa yang dimiliki dan apa yang sedang dialami. Yang kaya akan merasa masih miskin, yang miskin tak pernah merasa kaya. Keinginan manusia memang tak pernah ada batasnya. Selalu ingin mendapatkan sesuatu yang lebih dari apa yang telah dimilikinya.

Namun, bagaimana mungkin kita mendapatkan hal-hal yang lebih besar bila kita tidak mensyukuri atas apa yang telah kita miliki sekarang? Semuanya hanya bisa dimulai dengan apa yang telah kita miliki sekarang dan mensyukurinya.

Seorang sufi pernah mengatakan, “Syukur yang paling tinggi adalah bersyukur atas karunia syukur.” Sebab, dengan karunia syukur seseorang menikmati hidup dengan hati. Segala yang ada akan selalu terasa cukup.

Berkebalikan dengan orang yang sulit bersyukur. Yang terasa adalah kekurangan-kekurangan yang tiada batas. Karunia besar akan terasa kecil, kekurangan kecil terasa membuat derita.

Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS Ibrahim [14]: 7).

Rasulullah SAW pernah menasihati sahabatnya, Tsa’labah: “Kenikmatan sedikit yang membuat pemiliknya bersyukur kepada Allah lebih baik daripada kenikmatan yang banyak, tetapi tidak membuat pemiliknya bersyukur kepada-Nya.” Wallahu a’lam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *