Bijak Bersosial Media

Bijak Bersosial Media

Di zaman yang telah maju seperti saat ini, sosial media sudah menjadi kebutuhan bagi setiap orang. Dengan hadirnya sosial media, memungkinkan manusia untuk berinteraksi satu sama lain di manapun dan kapanpun mereka berada. Tidak terbatas seberapa jauh jarak mereka, dan tidak peduli siang atau pun malam.

Menurut riset platform manajemen media sosial HootSuite dan agensi marketing sosial We Are Social bertajuk “Global Digital Reports 2020“, pengguna aktif sosial media di Indonesia mencapai 160 juta. Itu berarti lebih dari setengah penduduk Indonesia sudah bisa mengakses sosial media.

Dengan banyaknya pengguna sosial media di Indonesia, masyarakat menjadi lebih mudah dalam mengakses segala informasi, baik berita, konten edukasi, ataupun konten hiburan hanya dalam genggaman.

Namun di sisi lain, penggunaan sosial media juga menimbulkan beberapa masalah, di antaranya adalah penyebaran hoaks dan ujaran kebencian. Hal ini terjadi karena kurangnya edukasi kepada pengguna sosial media di Indonesia. Juga kebebasan akses yang mudah dimiliki semua orang yang berdampak pada tidak adanya pembatas antara pengguna dan konten yang akan diakses.

Oleh karena itu, Majelis Pustakan dan Informasi Pimpinan Pusat Muhammadiyah menerbitkan Kode Etik Netizmu (Netizen Muhammadiyah) pada 19 Agustus 2017 di Yogyakarta, yang berisi enam pasal. Pada pasal 3 dijelaskan Netizmu dilarang melakukan hal-hal sebagai berikut :

(1) Melakukan ghibah, fitnah, namimah, Melakukan bullying, ujaran kebencian, dan menyebarkan permusuhan berdasarkan suku, agama, ras, atau antar golongan (SARA).

(2) Menyebarkan materi pornografi, kemaksiatan, dan segala yang terlarang secara syar’i.

(3) Menyebarkan informasi bohong (hoax), manipulasi berita dan tindakan provokatif.

Lalu bagaimana caranya agar kita bisa lebih bijak dalam menggunakan sosial media?
Pertama, tidak menyebarkan kebencian. Di media sosial, serangan untuk menjelek-jelekan atau menghina individu, kelompok, bahkan agama tidak pernah sepi. Sebagai pengguna sosial media yang baik, kita harus memikirkan secara matang sebelum menyebarkan informasi. Sebisa mungkin menggunakan kalimat yang santun, jelas, serta sesuai momentum agar informasi bisa diterima dan dipahami sehingga menjadi kebaikan.

Kedua, menghindari konten negatif. Menghinadari konten negatif dapat kita lakukan dengan tidak membuat, menonton, menyebarkan konten, utamanya konten yang tidak sesuai dengan syari’ah. Kita juga perlu menjaga pandangan. Karena pandangan yang tidak terjaga akan memberikan pengaruh negatif pada pikiran dan hati, yaitu menimbulkan syahwat yang tidak pada tempatnya.

Rasulullah Saw bersabda, “Mata itu berzina, hati juga berzina. Zina mata adalah dengan melihat (yang diharamkan), zina hati adalah dengan membayangkan (pemicu syahwat yang terlarang). Sementara, kemaluan membenarkan atau mendustakan itu semua.” (HR Ahmad).

Ketiga, cermat dalam menerima informasi. Sebagai umat Islam, kita dituntut untuk selektif dan cermat dalam menerima dan menyebarkan informasi. Hal ini ditegaskan di dalam Al-Qur’an: Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan (kecerobohan), yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu. (Q.S. Al-Hujurat [49]: 6)

Selalu cek informasi yang kita terima melaui sumber yang terpercaya. Mengingat banyak sekali informasi hoaks yang bertebaran di sosial media. Jangan sampai infromasi yang kita sebarkan tidak valid, sehingga malah menimbulkan kegaduhan di masyarakat.

Keempat, jadikan sosial media sebagai sarana dakwah. Manfaatkan sosial media sebagai media dakwah untuk mengajak berbuat kebaikan dan mencegah perbuatan munkar. Guna membentuk generasi yang berkakhlakul karimah.

Allah Swt berfirman: Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung. (Q.S. Ali-‘Imran[3]:104)

Kelima, manfaatkan waktu sebaik mungkin. Masih dalam riset yang sama, rata-rata penggunaan sosial media di indonesia adalah 3 jam, 26 menit per hari. 3 jam tentu saja bukan waktu yang singkat, maka manfaatkan waktu anda di sosial media sebaik mungkin. Jangan sampai sosial media melalaikan aktifitas anda di dunia nyata. Gunakan sosial media saat dibutuhkan saja.

Demikian tips bijak bersosial media menurut pandangan Muhammadiyah. Semoga bermanfaat, dan kita bisa memanfaatkan sosial media sebagai sarana dakwah yang ampuh guna membangun umat yang berakhlakul karimah.

Dendi Raihan
Mahasiswa Institut Teknologi dan Bisnis Ahmad Dahlan Jakarta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *