Keseimbangan Hidup

Keseimbangan Hidup

Oleh Teguh Mulyadi

“Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang tengah, agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu.” (QS al-Baqarah [2]:143).

Ibnu Katsir memahami umat tengah sebagai umat pilihan dan terbaik, umat paling mulia dan utama, umat yang menjunjung tinggi nilai keadilan. Karena, Allah menjadikan umat Islam sebagai umat tengah, Allah memberi secara khusus syariat yang paling sempurna, manhaj paling lengkap, dan mazhab paling jelas.

Sayyid Qutub dalam tafsirnya memahami umat tengah sebagai umat yang menjadi saksi bagi manusia semua bahwa mereka menerapkan nilai keadilan dan keseimbangan. Umat ini adalah umat tengah dalam segala kandungan maknanya, baik dalam arti tengah pada presepsi dan pemahaman, sehingga tidak tenggelam dalam ruhani atau hanya mementingkan urusan materi saja; tengah dalam pemikiran dan perasaan; tengah dalam sistem dan aturan; tengah dalam ikatan dan hubungan, baik hubungan secara indivudu, masyarakat, maupun negara; tengah dalam posisi, tidak cenderung ke Barat atau ke Timur; tengah dalama waktu, tidak terpaku pada sejarah masa lampau atau hanya melihat masa yang akan datang.

Umat Islam, demikian menurut Buya Hamka, adalah umat yang menempuh jalan tengah, menerima hidup dalam keadaannya. Percaya kepada akhirat, lalu beramal di dalam dunia ini. Mencari kekayaan untuk membela keadilan, mementingkan kesehatan ruhani dan jasmani karena kesehatan yang lain bertalian dengan yang lain. Mementingkan kecerdasan pikiran, tapi dengan menguatkan ibadah untuk menghaluskan perasaan.

Alquran menegaskan pentingnya keseimbangan hidup dunia dan akhirat, ruhani dan materi. Dua peran manusia, sebagai pengabdi Allah dan wakil Allah, mestinya kita laksanakan secara harmonis dan padu. Islam tidak hanya mengajak kita untuk mendapatkan kesalehan ritual ketuhanan saja, tapi juga agar kita mendapatkan kesalehan sosial dengan lebih menghargai aksi-aksi sosial-kemasyarakatan.

3 H dalam kehidupan Manusia

HEART (Hati)
Kualitas hati tidak hanya cukup dengan bagaimana kita mampu merasakan nikmat Allah SWT dan bersyukur, tetapi juga memperluas makna tentang apa saja yang kita jumpai, kita realisasikan bahwa kehidupan kita tidak akan pernah lepas dalam bentuk hal-hal yang nikmat, yang terkadang bisa membuat kita keluar air mata untuk mensyukuri apa yang sudah kita dapatkan. Jagalah hati supaya tetap bersih agar supaya bisa melindungi aktivitas yang ada dalam perilaku hidup kita.

HEAD (Pikiran)
Banyak dari kita yang belum memahami bagaimana menjaga kualitas pikiran (head). Kita suntikkan (injeksi) kepala kita dengan hal-hal positif dari informasi-informasi yang kita jumpai. Dalam proses perjalanan hidup, kadang muncul pertanyaan dalam benak kita “kenapa ya kok saya ketemu orang-orang yang sukanya menipu di depan saya atau bertemu orang-orang yang suka mencemooh orang lain?”. Kalau kita hanya sekedar mengisi pikiran dengan hal-hal yang buruk, maka ‘mind set’ cara berpikir kita akan mulai ikut berpikir negatif. Untuk itu latihan supaya kita bisa berpikir positif dengan konsisten, mulailah terhadap siapapun yang kita jumpai, mencari lima (5) hal positif apa yang mereka miliki. Contoh : tadi saya bertemu seorang teman saat kuliah, saya mendapatkan ilmu, kalau kita sudah terbiasa pada setiap perjumpaan selalu ditutup dengan hal-hal yang positif dalam pertemuan tersebut, maka kualitas pikiran akan tetap terjaga baik. Kita dapat mengumpulkan hal-hal yang baik dari orang lain dan bisa menjadikan vibrasi yang baik dalam cara berpikir kita.
Jadi kesimpulan bagaimana kita menjaga kualitas head/ pikiran supaya tetap baik, yaitu dengan melatih apa saja yang kita jumpai dengan melihat dari positifnya.

HAND (Perilaku)
Hand (perilaku) yaitu kualitas bagaimana kita melakukan proses bekerja. Kita tidak akan cukup hanya dengan kualitas hati yang baik dan pikiran yang positif saja tetapi juga kita harus mulai tambahkan kualitas usaha kita (hand). Latihan agar kualitas ‘hand’ berjalan dengan baik, buatlah hidup kita selalu mempunyai manfaat bagi orang lain, tolonglah orang lain dan di situlah nilai usaha/ keberhasilan kita. Karena kalau kita ingin selalu bermanfaat buat orang lain, disitulah kepentingan Allah SWT, disitulah kita punya nilai ibadah dan disitulah pula kita dapat menemukan siapa diri kita.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *