Apakah Beribadah Karena Mengharap Surga Merusak Keikhlasan??

Apakah Beribadah Karena Mengharap Surga Merusak Keikhlasan??

Dalam literatur sufi sering kita baca

مَنْ عَبَدَهُ لِشَيْءٍ يَرْجُوْهُ مِنْهُ أَوْ لِيَدْفَعَ بِطَاعَتِهِ وُرُوْدَ الْعُقُوْبَةِ عَنْهُ فَمَا قَامَ بِحَقِّ أَوْصَافِهِ

Siapa yang beribadah kepada Allah karena mengharapkan sesuatu atau untuk menolak datangnya siksa kepada orang itu, maka ia belum menunaikan hak kewajibannya terhadap sifat-sifat Allah.

MANUSIA dalam keikhlasannya beribadah kepada Allah terbagi dalam tiga tingkatan:

Pertama, beribadah kepada Allah karena takut pada siksa Allah di dunia atau di akhirat, atau karena mengharap rahmat dan penjagaan Allah baik di dunia atau di akhirat. Singkatnya, ia mengharap surga dunia dan surga akhirat, dan takut dari neraka dunia dan neraka akhirat. Ini Ibadahnya kebanyakan orang muslim (Awamul Muslimin). Ini dinyatakan dalam hadits Nabi:

لَوْلَا النَّارُ مَا سَجَدَ للهِ سَاجِدٌ

“Seandainya bukan karena api neraka maka tidak ada orang yang sujud kepada Allah.”

Hadits di atas menyatakan bahwa kebanyakan manusia menyembah Allah karena takut api neraka.

Kedua, beribadah karena cinta kepada Allah dan rindu bertemu Allah, bukan karena takut pada neraka atau mengharap surga. Ini adalah tingkatan para pecinta yang rindu kepada Allah dari orang-orang yang menempuh jalan Allah (Al-Muhibbun Al-Asyiqun minassairin)

Ketiga, beribadah karena melaksanakan kewajiban sebagai seorang hamba (wadhaif ubudiah) dan beradab dengan keagungan ketuhanan Allah (Adhamat Rububiah). Ia hamba dan Allah Tuhannya. Ini adalah tingkatan para pecinta yang makrifat kepada Allah (Al-Muhibbun Al-Arifun).

Dalam perspektif lain

Ibadah tingkatan pertama, beribadah karena kepentingan diri sendiri dengan mengharap pahala dan terhindar dari siksa adalah ibadah yang tercemar dan ibadah yang tidak sehat. Ini bukan pekerjaan orang yang pintar dan orang yang bersungguh-sungguh menjalankan ibadahnya. Sebab, hak Allah itu besar terhadap manusia. Orang yang melakukan ibadah karena tujuan pahala atau menolak siksa berarti belum melaksanakan hak Allah. Manusia, sebagai seorang hamba, punya kewajiban kepada Allah. Tetapi Allah, Tuhan yang memiliki hamba itu, tidak punya kewajiban kepada manusia. Kenapa manusia lantas menuntut balasan dari Allah, padahal semua amal ibadah itu datangnya dari Allah.

Maka seharusnya seorang hamba itu beramal semata karena Allah, beribadah untuk mengagungkan Allah. Tidak mengharapkan keuntungan di dunia atau di akhirat. Kalau tidak seperti itu berarti ia tidak benar-benar melaksanakan hak kewajibannya kepada Allah. Ini semua timbul dari kebodohan dan kelalaian dirinya. Memang manusia diciptakan untuk beribadah.

Sahal bin Abdullah At-Tusturi berkata: “Matahari tidak terbit dan tidak terbenam kepada seseorang di permukaan bumi ini kecuali mereka semua bodoh terhadap Allah, terkecuali orang yang mengutamakan Allah atas dirinya, jiwanya, dunianya dan akhiratnya.”

Disebutkan dalam kitab Nabi Dawud bahwa Allah berfirman kepadanya: Sesungguhnya orang yang paling Aku cintai adalah orang yang menyembah Aku bukan karena ingin pemberian. Tetapi ia menyembah Aku karena Aku memang pantas disembah.

Abu Hazim Al-Madani berkata: “Aku malu kepada Tuhanku untuk menyembah-Nya karena takut siksaan. Kalau begitu berarti aku seperti budak yang buruk, kalau tidak ditakut-takuti, tidak bekerja. Dan aku malu beribadah kepada Allah karena mengharap pahala. Maka aku seperti buruh yang buruk, kalau tidak diberi upah tidak akan bekerja.”

Syeikh Abu Thalib Al-Makki menyatakan bahwa ia meriwayatkan hadits dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam yang sesuai dengan hal ini. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

لَا يَكُنْ أَحَدُكُمْ كَالْعَبْدِ السُّوْءِ, إِنْ خَافَ عَمِلَ, وَلَا كَالْأَجِيْرِ السُّوْءِ إِنْ لَمْ يُعْطَ الْأَجْرَ لَمْ يَعْمَلْ

“Janganlah seorang dari kalian seperti hamba yang buruk. Bila takut ia bekerja. Dan jangan seperti buruh yang buruk. Bila tidak diberi upah tidak mau bekerja.”

Abu Thalib Al-Makki meriwayatkan tentang Rabi’ah Al-Adawiyah, seorang wali perempuan yang dikenal cintanya kepada Allah. Sufyan Ats-Tsauri duduk di hadapannya bagai seorang murid di hadapan gurunya. Sufyan berkata kepada Rabi’ah:

Ajarilah aku dari apa yang diajarkan Allah kepadamu dari ilmu-ilmu hikmah yang indah.”

“Sebaik lelaki adalah engkau, andaikan engkau tidak suka dunia,” nasihat Rabi’ah kepadanya. Sufyan mengakui perkataan Rabi’ah. Sufyan adalah seorang alim yang zuhud. Hanya saja ia sibuk dengan mengajar hadits dan suka bergaul dengan manusia. Maksudnya, apa yang dilakukan Sufyan dari mengajar dan bertemu dengan manusia bisa membawa manusia tertarik kepada dunia. Dengan banyak dihormati manusia, hati bisa berubah”.

Lantas bagaimana dengan orang yang memohon surga dan berlindung dari api neraka? Rasululullah shallallahu alaihi wasallam juga berlindung dari api neraka dan memohon surga.

“Nabi bertanya kepada seorang sahabatnya: “Apa yang kau baca ketika shalat?”

“Aku baca tasyahhud dan berdoa ‘Ya Allah, Aku memohon kepada-Mu surga dan berlindung kepada-Mu dari neraka’. Sungguh aku tidak bisa meniru ocehan doamu dan ocehan doa Muadz,” ucap sahabat itu kepada Nabi. “Kami juga mengoceh (berdoa) seperti itu,” kata Nabi.” (HR. Abu Dawud)

Akan tetapi memohon surga bukan berarti meminta balasan atas amal yang dilakukan. Tetapi karena surga adalah tempat pertemuan dengan Allah. Dialah (Allah) yang dituju, bukan surganya.

Walhasil, marilah kita tingkatkan keikhlasan ke tingkat yang lebih tinggi. Ini tidak sukar. Hanya dengan mengarahkan niat kita. Beribadah bukan karena takut kepada makhluk seperti neraka atau untuk mendapatkan makhluk seperti surga. Beribadah semata karena Allah, bersyukur kepada Allah dan cinta kepada-Nya. Beribadah karena memang Allah pantas untuk disembah.

Ikhlas adalah kunci utama diterimanya sebuah amal. Percuma bersedekah kolam susu jika niatnya bukan karena Allah SWT, percuma memberi makan orang sekampung jika karena ingin terlihat kaya, percuma menginfakkan beribu-ribu hektar tanah jika tidak tulus. Banyak-sedikitnya amal bukan penentu diterima atau tidaknya ibadah, tapi keikhlasan dalam beramal yang menjadi kuncinya.

Berkaitan dengan ikhlas, Allah Swt. berfirman dalam Qs. Al-A’rof (7) : 29,

قُلْ اَمَرَ رَبِّيْ بِالْقِسْطِۗ وَاَقِيْمُوْا وُجُوْهَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَّادْعُوْهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ ەۗ كَمَا بَدَاَكُمْ تَعُوْدُوْنَۗ

“Katakanlah, “Tuhanku menyuruhku berlaku adil. Hadapkanlah wajahmu (kepada Allah) pada setiap salat, dan sembahlah Dia dengan mengikhlaskan ibadah semata-mata hanya kepada-Nya. Kamu akan dikembalikan kepada-Nya sebagaimana kamu diciptakan semula.”

Kita shalat bukan karena ada calon mertua. Kita puasa bukan karena malu pada tetangga. Kita naik haji bukan karena ingin dipuji dan dipanggil Pak. Haji. Dalam semua perbuatan dan perkataan semata-mata untuk taqorrrub pada Allah Swt. Percuma ibadah karena makhluk, karena mereka tidak bisa memberikan apa-apa kelak di akhirat.

Nabi Muhammad Saw. bersabda,

ان الله لا ينظر الى اجسامكم ولا الى صوركم ولكن ينظر الى قلوبكم

“Allah Swt. tidak akan melihat (menilai) sebarapa bagus tubuh kalian, atau seberapa elok paras kalian, akan tetapi Allah Swt. akan menilai apa yang ada dalam hati kalian.” (HR Imam Muslim)

Ikhlas menurut sebagian manusia memang sulit. Tapi bukan berarti tidak bisa. Ikhlas bisa diusahakan secara perlahan-lahan. Selalu ingin dipuji dan dihormati orang lain selalu menjadi alasan berbuat baik. Tidak mengapa, itu namanya proses. Ingin mendapatkan apresiasi makhluk saat berbuat baik, itu sebagai langkah awal. Ubah sedikit demi sedikit sehingga berbuat baik karena Allah Swt.

Ikhlas bisa kita usahakan, karena memang wajib beribadah semata-mata karena Allah Swt. Sebenarnya ikhlas memiliki tiga tingkatan. Mulai dari Ulya (paling tinggi), wustho (sedang-sedang saja) dan dunya (adna: paling rendah). Pembagian ini berdasarkan penjelasan dari Syekh Muhammad Bin Salim Bin Sa’ied Asy-Syafi’ie dalam kitabnya, Is’adurrofiq juz 2/hal. 4. Beliau berkata,

“Tingkatan ikhlas ada tiga. Pertama ulya, yaitu beramal karena Allah SWT semata. Beribadah karena menjalankan perintah-Nya dan menegakkan kewajiban menyembah-Nya. Kedua, wustho, yaitu beribadah karena mengharapkan akhirat. Ketiga, dunya, yaitu beribadah karena ingin kemulian di dunia dan selamat dari berbagai macam mara bahaya dunia.

Orang yang beribadah karena ingin kaya, misalkan dengan rajin shalat duha dan istiqomah mengaji surat al-Waqi’ah, masih termasuk kategori ikhlas. Orang yang melakukan shalat malam karena ingin pangkat keduniaan, juga termasuk ikhlas paling rendah. Rajin sedekah karena untuk menolak bala’ juga masuk pada ikhlas dunya.

Di atasnya sedikit, orang beribadah karena mengharapkan kehidupan akhirat. Ia shalat, puasa, zakat,  haji, dan lain-lain karena inginkan surga dan takut neraka. Hal ini termasuk pada kategori ikhlas wustho.

Paling tinggi tingkatan ikhlas adalah beribadah karena Allah SWT. Tidak ada dalam hatinya keinginan lain kecuali menggapai ridha Allah SWT. Golongan ini beribadah bukan karena ingin surga atau takut neraka. Melainkan untuk menggapai kasih sayang-Nya.

Kita harus memulainya dari level yang paling rendah. Lalu sedikit demi sedikit naik ke level selanjutnya. Sekiranya bisa, maka sangat bagus bila langsung pada tingkatan ikhlas paling tinggi. Namun yang paling terpenting, ketiga macam ikhlas di atas tidak ada kaitannya dengan manusia. Jadi, buanglah “karena manusia”, ganti dengan “karena Allah”. Semoga Allah SWT. menjadikan kita termasuk pada golongan mukhlishin. Amin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *