Maqamat dan al Ahwal

Maqamat dan al Ahwal

Penjelasan Maqamat dan al Ahwal dalam tasawuf – Maqamat berasal dari bahasa Arab yang berarti tempat orang berdiri atau pangkal mulia. Diistilahkan dengan station/stage Kemudian maknanya digunakan untuk arti jalan panjang yang harus ditempuh oleh seorang sufi untuk berada dekat dengan Allah SWT.

Tingkatan Maqamat
Abu Bakar Muhammad al-Kalabadi dalam buku al-Ta’aruf li Mazhab Ahl al-Tasawwuf menyebutkan : Tobat – Zuhud – Sabar – Kefakiran – Kerendahan Hati – Takwa – Tawakkal – Kerelaan – Cinta – Ma’rifat.

Abu Nasr al-Sarraj al-Tusi menyebut dalam al-Luma : Tobat – Wara’- Zuhud – Kefakiran – Sabar – Tawakkal – Kerelaan Hati.

Abu Hamid al-Ghazali dalam Ihya’ ‘Ulum al-Din menyatakan : Tobat – Sabar – Kefakiran – Zuhud – Tawakkal – Cinta – Ma’rifat – Kerelaan.

Menurut Abu al-Qasim Abd al-Karim al-Qusyairi, maqamat itu adalah sebagai berikut : Tobat – Wara’ – Zuhud – Tawakkal – Sabar – Kerelaan

Pengertian al Ahwal

Al Ahwal adalah kondisi kejiwaan yang diperoleh sebagai karunia Allah dan bukan darui usahanya ( keadaan mental )

Kondisi ini dapat dikategorikan pada dua bentuk yakni atau kondisi mental yang dating dan pergi secara tiba-tiba, kemudian atau kondisi mental yang dapat bertahan lama. Bila ini dapat dipertahankan dan berubah menjadi kepribadian, maka inilah yang al-Ahwal yang diinginkan oleh semua kaum sufi.

Bentuk-bentuk al Ahwal

Khauf ( takut ) – Tawadhu’ ( rendah hati ) – at-Taqwa ( patuh ) – al-Ikhlas ( ikhlas ) – al-Uns ( berteman ) – al-Wajd ( gembira ) –asy-Syukur ( syukur ) – al-Muraqabah ( kesadaran selalu berhadapan dengan Allah ) – asy-Syauq ( rindu yang disertai mahabbah (seluruh ekspresi terdapat pada Allah dengan kontak getaran sentrum ) ( tentram dan tidak was-was ).

Perbedaaan Maqamat dengan al Ahwal

Maqamat adalah jalan-jalan yang harus ditempuh oleh sufi dalam mendekatkan diri kepada Allah swt, sedangkan al Ahwal adalah keadaan mental yang dirasakan oleh sufi

Contoh orang yang memiliki Maqamat

Qamar Kailani dalam Fi al-Tasauf al-Islami menjelaskan :
Sufi hampir sepanjang hari dan malam melakukan shalat nafilah. Pagi hari misalnya dalam shalat mereka membaca surat al-Kafirun dan surat al-Ikhlas, kemudian mengucap istighfar 70 X
Munajat, yakni salah satu bentuk do’a yang dapat diartikan sebagai mengadukan nasib kepada Allah SWT
Mengurangi makan dan minum
Al-Qusyairi, Hasan al Basri, Abu Yazid, Al-Hallaj dan lain-lain sufi besar, dalam riwayat hidup kesufian mereka sangat sedikit makan dan minum

Contoh orang yang memiliki al-Ahwal

Keadaan-keadaan kerohanian dan pengalaman-pengalaman kerohanian diungkap dengan metafora atau pelukisan. Seperti : Gambaran-gambaran tentang cinta manusia dalam hal ini pecinta dan yang dicinta saling bertatap muka, ibarat setetes air dalam samudra Ilahiah, atau ibarat burung Bul bul yang mencari mawar, perwujudan Tuhan, namun semua itu samar.

Kaitan Maqamat Dan Al Ahwal Dalam Tasawuf Dengan Fenomena Sosial

Probelamatika Spiritual Masyarakat Modren
Problematika masyarakat modern yang termasuk kentara dewasa ini adalah jauhnya umat dari nilai-nilai spiritual. Kenakalan remaja yang bermuara pada anarkisme, kesewenang-wenangan, korupsi, individualisme dan lain sebagainya. Sehingga terjadi semacam fenomena sosial nafsi-nafsi ( mementingkan diri sendiri ).

Disaat ditimpa masalah manusia lebih cendrung mencari pemecahannya dengan cara-cara yang ditutut oleh akal, tanpa menyadari siapa yang menciptakan akal,atau dengan cara mencari pelepasan masalah dengan mengkonsumsi narkoba, padahal semua itu hanyalah kenikmatan semu, Sehingga yang terjadi salah satu penyakit yang berkembang bagi masyarakat modern adalah stress, karena tidak mampunya menanggung beban hidup yang terasa sangat berat menghimpit.

Maqamat dan kaitannya dengan fenomena social
Orang yang komit dengan maqamat akan melahirkan akhlak yang terpuji, jika teraplikasi dalam fenomena social, maka menuju pemakmuran masyarakat dapat berlangsung tahap demi tahap.

Al Ahwal dan kaitannya dengan fenomena social
Al Ahwal merupakan situasi jiwa berupa rahmat Allah SWT, dimana sesorang merasakan bahwa tindakannya berada dalam koridor keridaan Allah SWT sehingga rasa percaya diri untuk segala tindakan dapat dinikmati. Hal ini akan menjadi motivasi untuk berjuang dan bekerja disetiap tahap kehidupan.

Situasi jiwa yang demikian rupa akan membimbing orang dalam segala tindakan , sehingga kemungkinan tindakan kriminal dan prilaku sosial menyimpang lainnya akan dapat dibendung. Oleh sebab itu maka pengalamana Al Ahwal ini jelas sangat perlu dimiliki setiap orang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *