8 Sifat Sufi menurut  Imam Junaid al-Baghdadi

8 Sifat Sufi menurut Imam Junaid al-Baghdadi

Meskipun sebagai seorang imam sufi di zamannya, Junaid al-Baghdadi tidak meminggirkan sisi fikih dalam kesehariannya. Artinya, ia cukup proporsional dalam menempatkan aspek fikih (lahiriah) dan aspek tasawuf (batiniah) di saat kedua aspek ini bersitegang dan tidak berada pada titik temu yang harmonis di zamannya.

Bagi Imam Junaid, tasawuf adalah kondisi di mana Allah mematikan/menjauhkan seseorang dari dirinya sendiri dan menghidupkannya di dalam-Nya.

Imam Junaid mengklasifikasikan tauhid menjadi empat macam, yaitu awam, alim, khawas, dan khawasul khawas. Perbedaan dari keempat klasifikasi ini ada dalam hal takut (khauf) dan harap (raja’).

Di level awam, seseorang masih punya ketakutan dan rasa berharap dari kekuatan di luar diri. Di level alim, seseorang punya ketakutan dan rasa berharap dari dalam diri. Di level khawas, masih ada ketakutan dan berharap kepada Allah. Di level selanjutnya khawasul khawas, tiada lagi rasa takut dan harap, melainkan hanya ada Allah.

Untuk mencapai tauhid level tertinggi ini diperlukan fana, yaitu kondisi merasa terpesona pada Allah hingga mampu mencegah hal yang tidak diinginkan Allah.

Terdapat tiga tingkatan fana menurut Imam Junaid. Pertama, berusaha mengekang sesuatu yang diinginkan karena Allah. Kedua, sirnanya hasrat untuk mengejar kenikmatan duniawi. Ketiga, sirnanya diri dan telah hidup dalam kesadaran Allah, dengan kata lain tidak lagi merasa kesadaran diri (aku) tapi kesadaran Allah yang menggerakkan.

Imam Junaid merumuskan delapan sifat sufi, yakni sebagai berikut, seperti dituturkan Fahruddin Faiz dalam Ngaji Filsafat edisi Imam Junaid al-Baghdadi.

1. Murah hati seperti Nabi Ibrahim

Konon Nabi Ibrahim tidak pernah makan malam sendirian, jika tiada teman maka dia akan memanggil tetangganya untuk menemani. Sufi tidak mungkin pelit, sebab dia sudah tak lagi terikat pada dunia.

2. Rida seperti Nabi Ismail

Selalu rela apa pun ketetapan Allah atas dirinya. Nabi Ismail bahkan rela menyerahkan nyawanya untuk Allah. Hal ini berkebalikan dengan kita yang suka mengeluh dan menawar.

3. Sabar seperti Nabi Ya’kub

Dia tadinya konglomerat namun jatuh miskin, diberi cobaan dengan penyakit kulit, hingga istri dan anak meninggalkannya, bahkan diasingkan masyarakatnya.

4. Mampu berkomunikasi dengan isyarat seperti Nabi Zakaria

Ketika akan punya anak, Nabi Zakaria tidak lancar bicara secara verbal tapi berkomunikasi dengan bahasa isyarat. Kita tahu bahwa ada hal-hal yang tidak bisa disampaikan begitu saja di masyarakat karena bisa menimbulkan salah pemahaman yang berujung keributan. Maka, sufi perlu menguasai bahasa simbolik.

5. Uzlah seperti Nabi Yahya

Tidak terlalu terlibat dengan masyarakat agar dirinya tidak hilang ditelan kerumunan. Maka, sufi perlu sesekali menjauh (uzlah) agar mampu memandang banyak hal secara lebih luas. Tujuannya adalah agar tak terlalu sibuk sehingga bisa muhasabah. Tentu saja dekat dengan masyarakat bukan sesuatu yang negatif, hanya saja perlu dijaga agar tidak terlalu terikat.

6. Kesederhanaan seperti Nabi Musa

Nabi Musa sebenarnya bisa bergaya ala seorang pangeran sebab dia merupakan anak angkat Raja Firaun. Namun, dia suka mengenakan pakaian sederhana yang terbuat dari kain wol.

7. Pengembara seperti Nabi Isa

Ke mana-mana membuat seseorang bisa mengerti macam-macam, wawasannya semakin luas. Para ulama terdahulu punya tradisi rihlah (perjalanan) ilmiah. Konon, untuk mencari satu hadis saja diperlukan waktu hingga berminggu-minggu.

8. Rendah hati seperti Nabi Muhammad

Rasulullah saw tidak meninggi-ninggikan diri. Hal ini rasa-rasanya berkebalikan dengan kita hari ini yang merasa paling tinggi dan paling benar.

Kita layak menanyakan, adakah diri kita memiliki kualifikasi sufi yang dijabarkan Imam Junaid ini? Bukan dalam rangka mengaku/merasa sufi, tapi sebagai bentuk meneladani sekaligus muhasabah agar memiliki laku diri yang lebih positif bagi sesama.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *