Konsep Makrifatullah Menurut Fahrudin Faiz

Konsep Makrifatullah Menurut Fahrudin Faiz

Ketika orang memasuki level cinta, maka yang dipikirkan bukan hanya diri sendiri, tapi mereka lebih memikirkan sesuatu yang ia cintai.

“Ciri cinta paling dasar itu tidak egois dan mereka itu ikhlas,” tegasnya.

Dalam penjelasannya, Fakhruddin Faiz meminjam Konsep Imam al-Ghazali tentang manifestasi jiwa pecinta. Yang mengatakan bahwa manifestasi konkrit pecinta adalah akhlaqnya menjadi baik (Husn al Khuluq). Sebab, hampir semua dosa terbentuk karena ke-aku-an, ego yang tinggi, memikirkan diri sendiri.

“Ketika seseorang memanifestasikan cintanya itu, maka ia memikirkan sesuatu (Allah) yang dicintainya,” tambah dosen filsafat itu.

Kemudian, Fakhruddin Faiz itu memaparkan secara rinci Konsep tersebut, dan membaginya dalam empat kategori, yaitu:

Pertama, Selalu bermuka ramah, tersenyum dan selalu menggembirakan makhluk baik suka maupun duka. Diibaratkan jika kita dekat dengan seseorang yang kita cintai, maka terasa asik, nyaman, enak dilihat.

Kedua, Ridha, Ihklas dan rela terhadap apapun ketentuan Allah, tidak pernah mengeluh. Karena mengeluh itu tidak puas terhadap apa yang terjadi saat ini. Kalau ada yang keliru harus segera diperbaiki.

Ketiga, Sanggup menahan diri, tidak membalas, bahkan bersikap sayang dan memohonkan ampun terhadap orang yang menzalimi. Jadi, kalau ada orang yang menyalahkan, jangan membalasnya.

Keempat, Tidak mendambakan apapun selain Allah. Keputusan final seseorang yang Husn al Khuluq yaitu Allah semata.

Tanda-Tanda Cinta Yang Seutuhnya

Di samping itu, Fahrudin Faiz juga menjelaskan bagaimana seharusnya sesorang pecinta versinya. Baginya, jika seseorang mengaku mencintai, akan tetapi belum memenuhi tanda cinta, maka mereka tidak dapat dikatakan cinta seutuhnya. sehingga, ada tujuh tanda keutuhan cinta yang ia jelaskan yaitu:

Pertama, Kasrat al-dzikr: kagum/takjub, ketika seseorang yang mencintai itu selalu teringat, terbanyang terhadap sesuatu yang ia cintai.

Kedua, Al- I’jab: kagum atau takjub pada yang dicintai. Kita jatuh cinta karena ada sesuatu yang dikagumi atau yang membuat diri tertarik.

Ketiga, Al-Ridha: rela seperti apapun sesuatu yang kita cintai. Artinya apapun yang diperintahkan, yang ia lakukan, kita rela menjalani.. Pada dasarnya diri kita tidak mengeluh.

Keempat, Al- Tadhiyyah: rela berkorban. Artinya seseorang rela berkorban apapun demi sesuatu yang dicintainya. Biasanya anak muda mengungkapkan dengan, ”Aku tidak rela tersakiti, termasuk diriku sendiri”.

Kelima, Al-Khauf: takut, artinya takut yang dicintai akan meninggalkan, membenci, ataupu marah. Jika kita cinta kepada Allah, maka kita takut akan dosa, takut kalau Allah marah.

Keenam, Al-Raja’: harapan, artinya seseorang yang mencintai berharap ingin selalu bersamanya, dan tidak ingin berpisah.

Ketujuh, Al- Ta’ah: patuh, artinya seseorang yang diperintah oleh yang dicintainya maka ia akan patuh, dan egoisnya rendah. Karena ia memikirkan orang yang dicintai, bukan hanya memikirkan diri sendiri.

Diakhir penjelasannya, Dosen kelahiran Mojokerto itu berharap, konsep tersebut dapat dijadikan parameter terhadap diri sendiri sebagai wujud intropeksi dalam mencintai yang seutuhnya, dan memanifestasikan hal tersebut di kehidupan nyata.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *