Diam

Diam

Ketika gelas yang berisi air di goyang maka air di dalam gelas ikut bergoyang dan bergelombang dan selama gelas itu kita goyang maka selama ini pula air tetap akan bergelombang di dalamnya. Jika kita ingin air itu tenang maka gelas harus kita letakkan dan kita biarkan diam maka seiring berjalan waktu maka air didalam gelas itu secara otomatis akan diam mengikuti diamnya gelas. Begitulah kehidupan kita, jika banyak masalah menimpa hidup, kesulitan dan terasa hidup ini “bergelombang” maka yang kita lakukan bukan berusaha menyelesaikan masalah tapi segera mengambil posisi diam maka dengan sendirinya masalah itu akan ikut diam, selesai dengan sendirinya.

Al-Qur’an telah memberikan contoh bagaimana laut bergelombang karena badai dan perahu yang di tumpangi oleh nabi Yunus pun hampir tenggelam maka yang dilakukan oleh Nabi Yunus adalah masuk diam di dalam lautan, masuk ke dalam perut ikan selama 3 hari dan disaat itu pula lautan menjadi tenang, bahkan orang-orang yang selama ini menentang dakwah Beliau kemudian ikut beriman. Kisah masuk kedalam perut ikan ini merupakan kiasan yang hanya dipahami oleh orang-orang yang tidak sekedar membaca kisah al qur’an secara tekstual, tidak sekedar menafsirkan secara harfiah tapi juga menafsirkan secara bathin, makna yang tersembunyi dari apa yang ditulis.

Sama ketika kita membaca tentang kisah ashabul kahfi, hampir semua orang meyakini ada seekor anjing yang ikut bersama mereka dan anjing itu akan masuk surga pula bersama mereka. Di kalangan sufi mareka memaknai anjing itu sebagai simbol kesetiaan, orang yang sudah melewati ujian demi ujian sehingga mendapat kedudukan sebagai kekasih Allah, dan “anjing” itulah yang menjadi pemimpin 7 orang pemuda yang bersembunyi di dalam gua tersebut.

Kisah Nabi Yunus dan kisah ashabul kahfi adalah dua orang contoh betapa dalam hidup diperlukan waktu sejenak untuk diam agar semesta mendapat kesempatan untuk memperbaiki dirinya sehingga kita juga ikut terkoreksi, kembali berada pada jalur yang tepat.

Islam sejak awal memberikan contoh dalam hal ini junjungan kita Nabi Muhammad SAW, ketika beliau melihat masyarakat jahilyah yang demikian buruk akhlaknya dan Beliau tidak sanggup memikirkan bagaimana cara memperbaiki kaum yang merosot moral tersebut maka yang Beliau lakukan bukan berceramah dari satu tempat ke tempat lain tapi beliau DIAM dalam beberapa saat di gua hira, menyepi dari keramaian.

Dalam proses menyepi dan diam itulah maka Beliau mendapat petunjuk dari Allah SWT, Tuhan seru sekalian alam tentang apa yang harus Beliau lakukan terdapat orang-orang jahiliyah. Sejarah mencatat bagaimana hebatnya Nabi kita yang mempu mengubah masyarakat yang demikian terbelakang dari segi moral menjadi masyarakat yang gemilang, mampu menerangi seluruh penjuru dunia.

Nabi SAW melakukan DIAM bukan hanya sekali tapi sering Beliau mengulangi sepanjang hidupnya. Kita tahu dalam beberapa hadist terutama yang diriwayatkan oleh Aisyah RA, bahwa Nabi setiap bulan Ramadhan selalu melakukan I’tikaf atau berkhalwat selama 10 hari dan ini adalah proses DIAM yang dilakukan Nabi SAW agar setelah diam ini bisa membina umat dengan baik dan selaras dengan alam dan tentu saja selaras dengan kehedak Ilahi.

Sultan Muhammad Al-Fatih yang menaklukkan Konstantinopel sebelum berperang terlebih dulu melakukan DIAM selama 40 hari bahkan ketika Beliau berada dalam putus asa karena belum mampu meruntuhkan tembok kota yang sangat kokoh itu, Beliau berdiam di dalam kemahnya. Kita tidak tahu persis apa yang dilakukan oleh sultan al-Fatih di dalam kemah, yang pasti sebagai seorang yang memiliki Mursyid tentu saja Beliau melakukan dzikir sehingga kemudian Guru Mursyidnya datang memberikan petunjuk. Ketika petunjuk itu datang maka Beliau mampu menaklukkan kota Konstantinopel.

Sejarah mencatat bahwa tentara Turki Utsmani sebelum berperang terlebih dulu melakukan DIAM dalam waktu tertentu, biasanya sampai 40 hari, mereka intensif melaksanakan ibadah agar ruhani mereka tercerahkan dan ini memberikan pengaruh kepada jiwa dan semangat mereka dalam berperang. Orang yang jiwanya telah tenang dan damai akan mampu melakukan hal-hal besar dan sulit sekalipun.

Ketika Ali bin Abi Thalib meminta kepada Nabi Muhammad SAW untuk berperang menaklukkan musuh maka dengan senyum Nabi membawa Ali ke ruang dzikir abu bakar dan berkata, “Ali, musuh yang telah ditaklukkan oleh Abu Bakar itu yang kalian semua kalian kalahkan”. Maksudnya, Abu Bakar mengalahkan musuh dengan Dzikir yang kemudian sahabat yang lain berperang secara dzahir, namun hakikatnya musuh itu sudah terlebih dulu dikalahkan secara rohani oleh Abu Bakar Shiddiq.

Perang yang dipimpin oleh para ulama dulu juga demikian, mereka terlebih dulu mengalahkan musuh dalam posisi DIAM sehingga ketika terjadi perang zahir secara gerak maka musuh sudah terlebih dahulu kalah.

Maka ketika hidup anda sudah seperti perang, amburadul, maka segera lakukan DIAM, bagi yang sudah belajar tarekat segera memperbanyak dzikir, bersuluk agar setelah DIAM selama waktu tertentu itu nanti segala persoalan hidup bisa selesai dengan sendirinya. Ibarat air yang bergelombang di dalam gelas, diamkan gelas, maka air ikut diam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *