Tazkiyatun Nafs menurut Imam Al-Ghazali

Tazkiyatun Nafs menurut Imam Al-Ghazali

Tazkiyatun nafs menurut al-Ghazali merupakan satu usaha seseorang agar bisa meleraikan serta melumpuhkan penyakit-penyakit jiwa serta membersihkan dirinya dari sifat-sifat buruk atau pun sifat- sifat yang tercela sehingga hatinya dapat dibebaskan daripada segala sesuatu yang tidak baik.

Tazkiyatun Nafs sangat erat kaitannya dengan qalb (hati), karena dengan hati yang bersih maka seseorang bisa mengenal tuhan-Nya. Ketenangan bathin hanya bisa dirasakan bagi orang orang yang senantiasa dalam hatinya terus mengingat Allah.

Tazkiyatun nafs bisa dilakukan melalui proses mujahadah al- nafs (takhalli) dan kemudian menghiasinya dengan sifat-sifat murni melalui proses riyaah al-nafs (tahalli) yang memerlukan kesabaran dan usaha yang gigih dan akhirnya menemukan penampakan diri Tuhan (tajalli). Berikut akan kami jelaskan masing-masing dari pengertiannya:

  1. Takhalli

Takhalli berarti membersihkan diri dari sifat-sifat tercela, kotoran dan penyakit hati yang merusak,  takhalli sebagai upaya mengosongkan diri dari segala sifat-sifat yang tercela, takhalli yaitu metode pengosongan diri dari bekasan kedurhakaan dan pengingkaran dosa terhadap Allah Swt dengan jalan melakukan tobat yang sesungguhnya (taubatan nasuhah).

Takhalli, sebagai tahap pertama dalam mengurus hati, yaitu membersihkan hati dari dari sifat-sifat tercela. Salah satu dari akhlak tercela yang paling banyak menyebabkan hati tidak bersih antara lain adalah kecintaan yang berlebihan kepada urusan duniawi. Hati hendaknya terbebas dari kecintaan terhadap dunia, anak, istri, harta dan segala keinginan yang berbau duniawi.

Ada beberapa sifat yang perlu dibersihkan ketika seorang salik ingin mempraktekkan tingkatan takhalli ini. Yaitu: 1).  Hasud: iri/dengki 2). Hiqd :benci/mendengus 3). Su’udzan : buruksangka 4). Takabbur : sombong/ pongah 5). ‘Ujub : berbangga diri 6). Riya’ :suka pamer kemewahan 7). Sum’ah :mencari kemasyhuran 8). Bakhil : kikir 9). Hubb al-mal : materialistis 10). Tafakhur : bersaing dalam kebanggaan diri 11). Ghadab : marah 12). Namimah :menyebar fitnah 13). Kidzib : berbohong 14). Khianat : tidak jujur/ tidak amanah 15). Ghibah :membicarakan kejelekan oranglain.

2. Tahalli

 Tahalli, sebagai tahap kedua berikutnya, adalah upaya pengisian hati yang telah dikosongkan dengan isi yang lain, yaitu Allah. Pada tahap ini, hati harus selalu disibukkan dengan dzikir (mengingat Allah). Dengan mengingat Allah, melepas selain-Nya, akan mendatangkan kedamaian.

Tidak ada yang ditakutkan selain lepasnya Allah dari dalam hatinya. Hilangnya dunia, bagi hati yang telah tahalli, tidak akan mengecewakan. Untuk melakukan tahalli, langkahnya adalah membina pribadi, agar memiliki akhlâqul karimah dan selalu konsisten dengan langkah yang dirintis sebelumnya dalam takhalli, yang pada gilirannya akan menghasilkan manusia yang sempurna (insân kâmil).

Pada saat tahalli, lantaran kesibukan dengan mengingat dan berdzikir kepada Allah dalam hatinya, anggota tubuh lainnya tergerak dengan sendirinya ikut bersenandung dzikir. Lidahnya basah dengan lafadz kebesaran Allah yang tidak henti-hentinya didengungkan setiap saat. Tangannya berdzikir untuk kebesaran Tuhannya dalam berbuat. Begitu pula, mata, kaki, dan anggota tubuh yang lain.

Pada tahap ini, hati akan merasakan adanya ketenangan. Kegelisahannya bukan lagi pada dunia yang menipu. Kesedihannya bukan pada anak dan isteri yang tidak akan menyertai kita saat maut menjemput. Kepedihannya bukan pada syahwat badani yang seringkali memerosokkan pada nafsu kebinatangan. Tetapi hanya kepada Allah. Hatinya sedih jika tidak mengingat Allah dalam setiap desahan napas. Menurut al-Ghazali, barang siapa yang ingin jiwanya tenteram, tentu perlu mengadakan latihan-latihan jiwa (riyadhah) berusaha membersihkan hatinya dari sifat-sifat tercela, mengosongkan hati dari sifat-sifat keji (tahalli) melepaskan sangkut paut dengan dunia dan seisinya.

Sifat-sifat terpuji (akhlaq mahmudah), adalah sifat-sifat yang dapat menyinari hati di antaranya adalah: 1). Taubat: menyesali dari perbuatan tercela 2). Khauf/taqwa: perasaan takut kepada Allah 3). Ikhlas: niat dan amal yang tulus dan suci 4). Syukur: rasa terima kasih atassegala nikmah 5). Zuhud: hidup sederhana, apa adanya 6). Sabar: tahan darisegala kesukaran 7). Ridho: rela dalam menerima taqdir Allah 8). Tawakkal: berserah diri padaAllah 9). Mahabbah: perasaan cinta hanya kepadaAllah 10). Dzikrul maut: selalu ingat akan mati.

3. Tajalli

 Setelah tahap pengosongan dan pengisian, sebagai tahap ketiga adalah tajalli. Tajalli adalah kelahiran atau munculnya eksistensi yang baru dari manusia, yaitu perbuatan, ucapan, sikap dan gerak-gerik yang baru, martabat dan status yang baru, sifat-sifat dan karakteristik yang baru, dan esensi diri yang baru.

Tajalli adalah tahapan dimana kebahagian sejati telah datang. Ia lenyap dalam wilayah Jalla Jalaluh, Allah subhanahu wataâla. Ia lebur bersama Allah dalam kenikmatan yang tidak bisa dilukiskan. Ia bahagia dalam keridhaan-Nya. Pada tahap ini, para sufi menyebutnya sebagai marifah, orang yang sempurna sebagai manusia luhur.

Ada pula menempuh jalan suluk dengan sistem yang dinamakan   :  “murotabatual-thariqah”   yang  terdiri   dari  empat tingkat. (seperti sistem yang dipakai oleh Tarekat Naqsabandiyah): 1). Taubat 2). Istiqomah : taat lahir dan batin. 3). Tahdzib : yang terdiri dari beberapa riyadloh (latihan) seperti puasa, mengurangi tidur dan menyendiri. 4). Taqarrub : mendekatkan diri kepada Allah dengan jalan berkhalwat, dzikir terus menerus.

Tujuan Tazkiyatun Nafs dalam Kitab Ihya’ Ulum ad-Din

 Tujuan Tazkiyatun Nafs tidak lain adalah agar ketakwaan  hamba kepada Allah SWT semakin tinggi, karena sesungguhnya, takwa hanya dapat terwujud melalui pembersihan serta penyucian jiwa manusia itu sendiri.

Serta firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

Dan orang yang paling bertakwa akan dijauhkan dari api neraka, yaitu orang yang menginfakkan hartanya serta menyucikan dirinya. (QS. Al-Lail 92: 17-18)

Tazkiyatun Nafs berkaitan dengan tujuan hidup manusia, yaitu untuk memperoleh kebahagiaan baik dari sisi jasmani dan ruhani.

Kebahagiaan itu akan dapat diperoleh manusia jika berbagai sarana yang menuju ke arah itu dapat dipenuhi serta berbagai hambatan yang menghalangi tujuan kesempurnaan jiwa itu harus disingkirkan.

Adapun   yang dapat    menghalangi    kesempurnaan    jiwa itu   adalah kotoran atau noda yang ditorehkan oleh sifat-sifat jelek yang melekat pada jiwa manusia.Tazkiyatun nafs membentuk manusia menjadi taat, taqwa dan beramal shaleh dalam hidupnya, baik dalam kehidupan pribadi, keluarga, masyarakat, dan agama. Serta membentuk manusia agar bersifat seimbang terhadap dirinya sendiri  di dalam mempergunakan segala potensi yang dimilikinya seperti nafsu, syahwat, marah, dan rasa cinta.

Tujuan khusus tazkiyatun nafs telah dijabarkan oleh Al-  Ghazali dalam Ihya’ Ulumidin, yaitu : (1) pembentukan manusia yang bersih akidahnya, suci jiwanya, luas ilmunya, dan seluruh aktivitas hidupnya bernilai ibadah. (2) membentuk manusia yang berjiwa suci dan beakhlak mulia dalam pergaulan dengan sesamanya, yang sadar akan hak dan kewajiban, tugas seta tanggung jawabnya. (3) membentuk manusia yang berjiwa sehat dengan terbebasnya jiwa dari perilaku tercela yang membahayakan jiwa itu sendiri. (4) memebentuk manusia yang berjiwa suci dan berakhlak mulia, baik terhadap Allah, diri sendiri maupun manusia sekitarnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *