Ada Di Level Mana Pengendalian Nafsumu?

Ada Di Level Mana Pengendalian Nafsumu?

Secara etimologi nafsu berasal dari bahasa Arab yaitu nafs yang bermakna jiwa, ruh, jasad, orang, diri sendiri, semangat, hasrat dan kehendak.

Istilah nafsu adalah kosakata bahasa Arab yang banyak dipakai dalam al-Qur’an.

Nafsu dalam al-Qur’an diartikan sebagai sesuatu yang terdapat dalam diri manusia yang menghasilkan tindakan.

Menurut Ibnu Qayyim al-Jauziyyah, nafsu adalah kecenderungan tabiat kepada sesuatu yang dirasa cocok. Kecenderungan ini merupakan satu bentuk ciptaan yang ada dalam diri manusia, sebagai urgensi kelangsungan hidupnya. Nafsu mendorong manusia kepada sesuatu yang dikehendakinya.

Sementara itu, para ahli tasawwuf mengungkapkan bahwa, makna pertama nafsu merupakan cakupan makna dari kekuatan amarah dan syahwat  (nafsu birahi) dalam diri manusia. Nafsu merupakan dasar cakupan sifat-sifat tercela. Makna kedua, bahwa nafsu adalah perasaan halus (lathifah).

Nafsu adalah hakikat manusia. Nafsu adalah jiwa manusia dan hakikatnya.

Syaikh Syihabuddin Umar Suhrawardi mengungkapkan bahwa nafsu memiliki dua makna, yaitu:

  • Nafs-i-syay’ (nafsu dari sesuatu) yang berupa esensi (dzat) dan hakikat sesuatu. Dengan demikian, dinyatakan bahwa dengan nafsunya sendiri sesuatu bisa berdiri.
  • Nafs-i-nathiqa-i-insani (nafsu rasional manusia) yang merupakan abstrak dari berbagai anugerah dalam tubuh, yang disebut fitrah manusia dan suatu kecemerlangan yang dianugerahkan kepadanya dari kemuliaan jiwa manusia yang dengan kecemerlangannya tubuh menjadi tempat pengungkapan kedekatan dan kesalihan.

Makna nafsu berdasarkan beberapa kajian di atas, dapat dipahami bahwa nafsu pada dasarnya merupakan salah satu fitrah yang diciptakan Allah dalam diri manusia yang bersifat halus, yang dapat dijadikan sumber dorongan dalam kelangsungan hidup manusia. Namun, sewaktu-waktu nafsu juga dapat berubah dari dorongan yang baik yang bersifat positif menjadi dorongan yang mengarah pada sifat-sifat tercela (negatif).

Nafsu juga diibarat seperti berhala, maka barangsiapa yang mengabdi kepada nafsu, berarti ia mengabdi kepada berhala. Tetapi barasiapa yang mengabdi kepada Allah dengan penuh keilkhlasan, maka berarti dia telah mengalahkan hawa nafsunya.

Nafsu adalah kecenderungan tabiat kepada sesuatu yang dirasa cocok. Kecenderungan ini merupakan satu bentuk ciptaan yang ada dalam diri manusia, sebagai urgensi kelangsungan hidupnya. Nafsu mendorong manusia kepada sesuatu yang dikehendakinya baik itu kebaikan maupun keburukan.

Sementara itu, para ahli tasawwuf mengungkapkan bahwa, makna pertama nafsu merupakan cakupan makna dari kekuatan amarah dan syahwat  (nafsu birahi) dalam diri manusia. Nafsu merupakan dasar cakupan sifat-sifat tercela.

Makna kedua, bahwa nafsu adalah perasaan halus (lathifah). Ia adalah hakikat manusia. Ia adalah Jiwa manusia dan hakikatnya. Nafsu itu bagaikan kuda binal, liar dan tidak mau dikendalikan, lalu bagaimana caranya untuk mengalahkan dan menguasainya? Maka para ulama mengatakan, bahwa untuk mengalahkannya nafsu terdapat tiga cara, yaitu:

  • Mencegah keinginan nafsu (syahwat). Karena kuda binal itu akan melemah bila dikurangi makanan kesukaannya.
  • Memperberat beban muatannya dengan berbagai ibadah, karena keledai jika ditambah muatannya dan dikurangi makannya akan menjadi tunduk dan menurut.
  • Memohon pertolongan kepada Allah Azza wa Jalla, merapat dan mendekat dengan penuh ketundukan kepada-Nya, agar Ia menolong anda, jika tidak, maka Anda tidak akan bisa terlepas dan terbebas daripadanya.

Bukankah Anda telah mendengar perkataan Nabi Yusuf as. Sebagaimana yang disebutkan dalam Al-Qur’an:

Artinya : Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyanyang. (Q.S. Yusuf: 53).

Apabila sesorang membiasakan mengerjakan tiga hal tersebut, tentu nafsu binal itu akan menurut, dengan izin Allah SWT. Dengan demikian, seseorang akan terbebas dan selamat dari kejahatan nafsunya.

Apabila manusia dikuasai oleh hawa nafsunya, ia akan terjatuh kedalam tingkatan yang terendah, sehingga tidak ada tempat lagi selain bersama hewan. Tetapi apabila mampu mengatasinya, maka akan mudah untuk mengatur dan mengendalikannya.

Dari berbagai makna nafsu di atas, dapat dipahami bahwa nafsu pada dasarnya merupakan salah satu fitrah yang diciptakan Allah dalam diri manusia yang bersifat halus yang dapat dijadikan sumber dorongan dan kelangsungan hidup manusia.

Namun, sewaktu-waktu nafsu juga dapat berubah dari dorongan yang baik yang bersifat positif menjadi dorongan yang mengarah pada sifat-sifat tercela (negatif).

 Berada di Level Mana Pengendalian nafsumu

Nafsu yang ada di dalam diri manusia senantiasa berubah-ubah, namun tergantung dengan kesadaran dan ketaatan yang dimilikinya. Hawa nafsu merupakan kekuatan yang mendorong manusia untuk melakukan sesuatu tindakan

atau perbuatan, kadang-kadang mendoroang kearah yang baik (makruf), kadang- kadang pula mendorong kepada yang buruk (munkar).

Para ulama membagi nafsu menjadi delapan tingkatan, sebagai berikut:

(1). Nafsu Amarah

Amarah adalah nafsu yang tidak mampu membedakan hal-hal yang baik dengan hal-hal yang buruk. Amarah selalu mendorong kepada hal-hal yang buruk, dan selalu menganggap bahwa nasehat itu merupakan penghalang belaka, yang tidak perlu ditanggapinya.

Nafsu yang selalu mengerakkan dan membawa orang kepada perbuatan maksiat dan membuat kedurhakaan kepada Tuhan.

Nafsu ini cenderung kepada tabiat badaniah atau jasmaniah. Nafsu inilah yang mendorong supaya adanya kesenangan, kelezatan dan berbagai syahwat yang terlarang pada agama. Nafsu ini menarik hati kepada keadaan-keadaan yang bersifat rendah. Inilah nafsu yang merupakan tempat bernaungnya segala kejahatan dan sumber dari kelakuan tercela, seperti takabur, tamak, syahwat, dengki, pemarah dan lain- lainnya.

Nafsu amarah inilah yang diisyaratkan Allah dalam surat Yusuf.

Artinya : Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyanyang. (Q.S. Yusuf: 53).

Terhadap nafsu dalam kategori ini Allah SWT., memperingatkan agar tidak diikuti, sebab nafsu amarah akan menyesatkan dan setiap yang sesat akan mendapat azab yang berat. Bahkan mengikuti nafsu ini digambarkan akan mengakibatkan hancurnya langit dan bumi dengan segala isinya. Firman Allah :

Artinya : Andaikata kebenaran itu menuruti hawa nafsu mereka, pasti binasalah langit dan bumi ini, dan semua yang ada di dalamnya. Sebenarnya Kami telah mendatangkan kepada mereka kebanggaan (Al-Quran) mereka tetapi mereka berpaling dari kebanggaan itu. (Q.S. Al- Mukminun : 71)14

Jadi nafsu amarah ini adalah tingkat kerohanian yang paling rendah. Tetapi apabila diberi pelajaran dan diberikan bimbingan keagamaan, dapat meningkat ke derajat yang lebih tinggi yakni nafsu lawwamah.

(2). Nafsu Lawwamah

Lawwamah adalah nafsu yang telah mempunyai rasa insaf dan menyesal sesudah melakukan perbuatan buruk. Lawwamah tidak berani melakukan yang keji secara terang-terangan,karena sudah menyadari bahwa perbuatan itu tidak baik, tetapi belum bisa mengekang keinginan nafsunya. Singkatnya nafsu ini adalah nafsu yang sering menyesali diri.

Menurut Syeikh Abdus Shamad nafsu lawwamah adalah :

Nafsu yang menyukai perbuatan-perbuatan baik tetapi kebaikan itu tidak dapat dilaksanakannya secara rutin, karena dalam hatinya masih bersemanyam maksiat-maksiat bathin, seumpama ujub dab riya’. Walaupun perkara ini di ketahuinya tercela dan tidak dikehendakinya, namun selalu saja maksiat bathin itu datang mengunjunginya.

Apabila kuat serangan bathin itu maka sekali-kali dia terpaksa berbuat maksiat zhahir karena tidak kuasa baginya melawannya. Walaupun demikian adanya,dia masih tetap berusaha berjalan menuju keridhaan Allah. Orang yang mempunyai nafsu ini hendaklah memperbanyak zikir “Allah, Allah.

Mengenai nafsu lawwamah, Allah berfirman :

Artinya : Aku bersumpah demi hari kiamat, Dan aku bersumpah dengan jiwa yang Amat menyesali dirinya sendiri. (Q.S. Al-Qiyamah : 1-2)

Nafsu lawwamah ini masih mempunyai kemampuan untuk taubat lagi, karena rasa menyesal yang selalu terdapat dalam dirinya adalah merupakan pokok pangkal dari taubat.

Pada tingkat ini seseorang, jika telah selesai mengerjakan suatu pekerjaan yang buruk, menjadi insaf dan menyesal, dan seterusnya mengharap agar kejahatannya tidak terulang lagi pada dirinya yang telah tumbuh bibit pikiran dan kesadaran, bahkan disebut bahwa nafsu inilah yang akan menghadapi perhitungan kelak pada hari kiamat.18

(3)Nafsu Musawwalah.

Musawwalah adalah nafsu yang telah dapat membedakan hal-hal yang baik dan hal-hal yang buruk, tetapi musawwalah masih selalu mencampur adukkan perbuatan baik dengan perbuatan buruk.

Nafsu musawwalah masih sering melakukan perbuatan buruk dengan cara sembunyi-sembunyi karena malu terhadap orang lain bukan malu terhadap Tuhan.

Katagori ini masih berada pada posisi dekat dengan keburukan, sebab Allah SWT. Maha mengetahui apa saja yang dilakukan oleh hamba-nya. Sebagian tersebut dalam firman-nya.

Artinya : Dan janganlah kamu campur adukkan yang hak dengan yang bathil dan janganlah kamu sembunyikan yang hak itu, sedang kamu mengetahui. (Q.S. Al-Baqarah : 42)

(4)Nafsu muthmainnah

Muthmainnah adalah nafsu yang telah mendapat tuntunan yang baik, sehingga dapat melakukan sikap dan perilaku yang benar, dapat menghindarkan diri dari kejahatan, serta selalu melahirkan ketenangan lahir dan bathin. Jiwa ini telah mantap imannya dan tidak mendorong perilaku buruk. Jiwa yang tenang yang telah menomor duakan nikmat materi.21 Nafsu muthmainnah juga mampu membentangi serangan kekejian dan kejahatan, dan mampu memukul mundur segala kendala dan godaan yang menggangu ketentraman jiwa, bahkan ketenangan jasmaniah terutama dengan zikir kepada Allah SWT. Nafsu muthmainnah berfungsi mendorong melakukan kebijakan dan mencegah  membuat kejahatan. Posisi nafsu ini secara jelas di gambarkan Allah dalam firma- nya:

Artinya : Orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram. Orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bagi mereka kebahagiaan dan tempat kembali yang baik. (Q.S. Ar-Ra’d : 28-29)

Dengan kemampuan memerangi hawa nafsu mengekang syahwat, mengatasi segala macam kekurangan dan kerendahan jiwa, maka dapatlah jiwa itu diantarkan kepada kebenaran, kebaikan keindahan dan kesempurnaan. Orang yang demikian itu sudah mencapai tinggat kebijaksanaan (memproleh hikmah) dan memperoleh mutiara ketenangan jiwa. Orang itulah yang diundang dan dipersilahkan oleh Allah untuk menikmati kebahagian hakiki dan abadi.

Sebagaimana firma Allah :

Artinya : Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. (Q.S. Al-Fajr : 27-28)

Nafsu muthmainnah dimana hati seorang hamba Allah telah bersinar dengan cahaya iman dan amal ibadahnya sehingga jauhlah batinnya bersangkutan daripada sifat-sifat hati yang tercela oleh karena hatinya telah berada dalam ketenangan menuju kesempurnaan-kesempurnaan batin.

Berarti manusia yang sudah mempunyai nafsu muthmainnah sudah berpindah batinya dari kegoyangan berbagai warna kepada kemantapan yang istiqamah.

Jadi nafsu muthmainnah merupakan tingkat rohani yang paling tinggi dan paling baik, karena tingkat ini sudah sanggup mengendali nafsu yang tidak baik dan mendorong untuk membuat kebaikan.

(5)Nafsu mulhamah.

Mulhamah adalah nafsu yang yang telah memperoleh ilham dari Allah SWT dan sudah dikaruniai pengetahuan yang dihiasi dengan akhlak mulia, sehingga ia selalu bersyukur, bersabar bertawakkal, bersikap ikhlas dan sebagainya.

Ini adalah tingkat jiwa yang memiliki tindakan dan kehendak yang tinggi. Jiwa ini lebih selektif dalam menyerap prinsip-prinsip. Ketika jiwa ini merasa terpuruk kedalam kenistaan, segera akan terilhami untuk mensucikan amal dan niatnya. Demikian juga nafsu mulhamah merupakan tempat terbitnya kehendak bersyukur kepada Allah dalam arti yang luas.

Inilah yang dimaksud dalam firman Allah dalam surah Asy-Syam :

Artinya : Dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya), Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, Dan Sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya. (Q.S. As-Syams : 7-10)

Beberapa ayat ini menggambarkan bahwa sebagian dari pada nafsu manusia yang baik ialah nafsu yang diilhamkan oleh Allah SWT., kepadanya untuk kalimat antara yang baik dan merupakan kedurhakaan kepada Allah dan antara ketakwaan kepadanya.

Oleh karena manusia itu selalu mensucikan nafsunya itu dengan zikir dan ibadah kepada Allah di samping mujahadahnya terdapat musuh-musuhnya seperti telah disebutkan di atas, maka sukseslah manusia itu, sehingga dia selalu berada dalam jalan ketakwaannya kepada Allah

(6)Nafsu radiyah

Radiyah adalah nafsu yang ridha kepada Allah SWT, yang mempunyai peran yang penting dalam mewujudkan kesejahteraan. Nafsu ini dalam realisasinya sering kali muncul dalam bentuk tindakan-tindakan, misalnya ia selalu mensyukuri nikmat Allah SWT, sebab Allah menjanjikan tambahan nikmat bagi mereka yang bersyukur kepada nikmat-nikmat Allah dan sebaliknya akan diberi azab mereka yang tidak mensyukuri nikmat itu. Seperti disebut dalam firman-nya:

Artinya : Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), Maka Sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”. (Q.S. Ibrahim : 7)

Hamba Allah yang telah sampai martabatnya ketingkat menghayati nafsu radiyah ini senantiasa keadaannya selalu menyerah kepada Allah, apapun yang terjadi dan apapun yang akan terjadi dan dia merasakan nikmat berada dalam kebingungan.

Karena keberadaanya dalam kebingungan itu merupakan jalan buntu baginya untuk melangkah cepat kepada jalan pintas yang lebih dekat dan mendekatkan batin dan jiwa terhadap Allah SWT.

Nafsu ini senantiasa menjadikan seseorang ridha dalam melaksanakan segala kewajiban  perintah Allah SWT dan ikhlas dalam menjauhi semua larangan-Nya.

(7)Nafsu mardiyah

 Yaitu nafsu yang selalu mendapatkan ridha Allah, sehingga seseorang mudah melakukan dzikir, serta memiliki kemuliaan dan karamah. Tidak ada lagi keluhan, kemarahan, kekesalan. Perilakunya tenang, syhawatnya tidak lagi bergejolak.

Seseorang yang sudah tersentuh dengan keadaan ini, berarti ia telah mendapatkan kemuliaan dari Allah. Ingatnya terhadap Allah dan keikhlasan kepada-Nya sudah kuat dan mantap, tiada keraguan lagi.

Maka nafsu yang sudah sampai pada tingkatan ini, berarti sudah sampai kepada ma’rifat Allah. Sehingga dia batinnya sangat dekat kepada Allah dengan keridhaan-Nya.

(8)Nafsu al-Kamilah

Yaitu nafsu yang telah sempurna dan sanggup memberi petunjuk yang sebaik-baiknya kepada orang lain. Jiwanya pasrah pada Allah dan mendapat petunjukNya.

Jiwanya sejalan dengan kehendakNya. Perilakunya keluar dari nuraninya yang paling dalam dan tenang. Seseorang yang sampai pada tingkatan nafsu ini dapat disebut sebagai mursyid dan mukamil (orang yang menyempurnakan) atau insan kamil. Dalam taraf ini nafsu itu telah demikian dekat dengan Allah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *