20 Nasehat Jiwa: Wahb bin Munabbih

20 Nasehat Jiwa: Wahb bin Munabbih

Wahb bin Munabbih adalah salah seorang tabiin yang lahir pada masa pemerintahan Utsman bin Affan tahun ke 34 H di Yaman.

Jalur nasabnya adalah Wahb, bin Munabbih, bin Kaamil, bin Siij, bin Dzi Kibar.

Dalam bahasa Yaman, setiap orang yang dipanggil “Dzi” adalah syarif (orang terhormat).

Wahb bin Munabbih sebenarnya berdarah Persia, karena orang tuanya berasal dari Khurasan (Iran timur laut), tepatnya daerah Harah. Mereka meninggalkan Harah atas perintah Kisra. Munabbih telah memeluk Islam sejak zaman Nabi Muhammad SAW dan menjalankan agamanya dengan baik.

Wahb adalah seorang pemimpin, sangat alim, ahli khabar, ahli hikayat, dijuluki Abu Abdillah al-Abnaawi, al-Yamani, adz-Dzamaari, ash-Shan’aani. Daerah tempat ia tinggal di Yaman adalah kota Dzamaar, berjarak dua marhalah (perjanan dua hari) dari kota Shan’a.

Wahb bin Munabbih ialah salah seorang pemuka Tabi’in dan ahli dalam bidang sejarah. Ia diperkirakan berasal dari Arab Selatan dan berketurunan Persia dengan memiliki pengetahuan yang mendalam tentang kitab suci dan tradisi dari Yahudi dan Nasrani, sehingga memiliki banyak riwayat kisah Israiliyat. Ia merupakan saudara kandung dari Abdullah dan Hamam bin Munabbih. Putranya bernama Abdullah bin Wahb dan Ibnu Wahb bin Munbah.

Pelajaran dari wahab Bin Munabih

Wahab bin Munabbih menuturkan, “Aku mendapatkan catatan pinggir dalam kitab Taurat yang berisi 22 huruf (kalimat nasihat/wasiat), yang biasa dibaca dan dipelajari oleh orang-orang shaleh kaum Bani Israil. Kalimat-kalimat nasihat tersebut adalah:
1. Tak ada gudang simpanan yang lebih bermanfaat daripada ilmu.
2. Tak ada harta yang lebih menguntungkan daripada meredam kemarahan.
3. Tak ada perhitungan yang lebih rendah daripada cepat marah.
4. Tak ada kawan yang lebih menghiasi daripada amal kebaikan.
5. Tak ada kawan yang lebih memalukan daripada kebodohan.
6. Tak ada kehormatan yang lebih mulia daripada ketakwaan.
7. Tak ada kemurahan yang lebih sempurna daripada meninggalkan hawa nafsu.
8. Tak ada amal yang lebih utama daripada berfikir.
9. Tak ada kebaikan yang lebih tinggi daripada bersabar.
10. Tak ada kejahatan yang lebih keji daripada sombong.
11. Tak ada obat yang lebih lembut daripada kasih sayang.
12. Tak ada penyakit yang lebih pedih daripada lemah pikiran.
13. Tak ada pemberi kabar yang lebih adil daripada kebenaran.
14. Tak ada pembimbing yang lebih tulus daripada kejujuran.
15. Tak ada kemiskinan yang lebih hina daripada rakus.
16. Tak ada kekayaan yang lebih mencelakakan daripada menimbun (menumpuk-numpuk) harta.
17. Tak ada kehidupan yang lebih indah daripada kesehatan.
18. Tak ada penghidupan yang lebih tentram daripada menjaga kesucian.
19. Tak ada ibadah yang lebih baik daripada khusyuk.
20. Tak ada zuhud yang lebih baik daripada sikap qana’ah.
21. Tak ada penjaga yang lebih memelihara daripada sikap diam.
22. Tak ada perkara gaib yang lebih dekat daripada kematian.
–Dikutip dari Kitab Ihya Ulumuddin karya Imam Al-Ghazali

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *