Bahayanya Sifat Hasad/Dengki

Bahayanya Sifat Hasad/Dengki

Salah satu sifat tercela yang hampir-hampir menghinggapi setiap perempuan muslimah adalah sifat hasad (dengki). Orang hasad adalah orang yang tanpa alasan yang rasional , tidak senang kepada segala kelebihan dan keutamaan yang dimiliki orang lain, baik kelebihan itu berupa harta benda, kekayaan, kedudukan, kehormatan, dan lain-lain.

Bisa jadi, orang hasad akan membenci orang lain yang sebetulnya tidak memiliki nikmat atau kelebihan apa-apa, tetapi oleh yang hasad diduga memilikinya. Dan bisa jadi pula orang hasad akan merasa senang kalau orang lain terus-menerus dalam kesusahan dan kekurangan, meskipun ia tahu bahwa yang bersangkutan sudah tidak memiliki kelebihan apa-apa. Jadi, hasad itu kecenderungan untuk membenci semua orang tanpa alasan yang jelas, rasional dan dibenarkan oleh ajaran agama.

Orang hasad memiliki banyak bahaya . Berikut bahayanya hasad bila menghinggapi hati seseorang menurut fatwa Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah dalam kitabnya ‘Silsilah Fatawa Nur Ala Darb’, sebagai berikut:

1. Selalu keberatan dan tidak ridha dengan ketetapan dan takdir Allah Azza wa Jalla.

Karena orang yang hasad membenci nikmat yang Allah berikan kepada orang yang dihasadinya.

2. Selalu merasa gelisah, terbakar dan jengkel

Karena nikmat Allah kepada hambaNya tidak terhitung. Setiap kali ia melihat nikmat orang lain timbullah hasad pada dirinya dan membenci nikmat tersebut. Tidak ada pilihan kecuali ia senantiasa berada dalam kegalauan.

3. Umumnya orang yang hasad membenci orang yang di-hasad-i.

Ia pun berusaha menyembunyikan nikmat Allah kepada orang tersebut atau bahkan berusaha menghilangkan nikmat tersebut. Maka terkumpullah rasa hasad dan permusuhan.

4. Orang hasad menyerupai kebiasaan yahudi yang merasa hasad dengan pemberian kutamaan Allah kepada orang lain.

5. Orang hasad meremehkan nikmat Allah kepada dirinya sendiri.

Karena dia merasa nikmat Allah kepada orang lain lebih sempurna dan lebih utama sehingga ia menganggap kecil nikmat Allah pada dirinya lalu iapun tidak bersyukur kepada Allah Ta’ala atas nikmat tersebut.

6. Orang hasad menunjukkan betapa sensitif dirinya serta tidak suka kebaikan pada orang lain.

Bahkan dia seorang rendahan karena tidak memandang sesuatu kecuali kepada dunia. Andai ia memandang akhirat, iapun akan berpaling darinya.

Andai ada orang berkata, “Jika tertimpa hasad pada hatiku tanpa pilihan. Apakah obatnya?” Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin menjawab, obat hasad ada dua, yakni :

1. Berpaling dari perkara yang memicu hasad secara total, melupakannya serta menyibukkan diri dengan urusan yang penting bagi dirinya.

2. Memperhatikan dan mengingat-ingat bahaya hasad. Karena dengan berfikir merenung bahaya suatu perbuatan maka iapun bersegera untuk berlari dan menjauhinya. Hendaknya ia mempraktekkannya.

Hasad yang Dibolehkan

Dalam ajaran Islam, hasad hanya dibolehkan dalam dua hal: terhadap yang orang dianugerahi harta oleh Allah kemudian ia menafkahkannya dengan benar, dan terhadap orang yang dianugerahi ilmu kemudian ia mengamalkan dan mengajarkannya kepada orang lain.

Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

عن ابنِ مسعودٍ رضيَ اللهُ عنه قال: سمعتُ النبيِّ صلى الله عليه وسلم يقول «لاَ حَسَدَ إِلاَّ فِي اثْنَتَيْنِ: رَجُلٍ آتاهُ اللهُ مالاً فَسَلَّطَهُ عَلىَ هَلَكتهِ في الحَقِّ، ورَجُلٍ آتاهُ اللهُ حِكْمَةً فَهُوَ يَقضِي بِهَا ويُعلِّمها»

Dari Ibnu Mas’ud r.a, Rasulullah S.a.w bersabda: Tidak dibenarkan hasad kecuali dalam dua hal; terhadap seseorang yang diberi anugerah oleh Allah berupa harta lalu dia menafkahkannya di jalan yang benar, dan terhadap seseorang yang diberi anugerah ilmu oleh Allah lalu dia mengamalkan dan mengajarkannya kepada orang lain. (HR. Bukhari dan Muslim)

Artinya, Nabi memberi arah kepada kita bahwa yang boleh diirikan oleh kita dari orang lain adalah amal salehnya, bukan kebendaannya. Kita boleh iri kepada orang kaya, tetapi bukan kekayaannya melainkan perbuatannya menafkahkan kekayaannya itu di jalan yang benar.

Demikian pula dengan ilmu, kita diperbolehkan iri kepada orang yang berilmu, bukan karena ilmunya, melainkan karena perbuatannya dalam mengamalkan dan mengajarkan ilmunya itu.

Wallahu A’lam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *