Sebuah Kain Pembalut Luka

Sebuah Kain Pembalut Luka

Oleh : Drs. Syuaeb Musthofa

banner-zakat-header-11

Selendang sutra
Tanda mata darimu
Telah kuterima
Sebulan yang lalu

Ketika lenganku terluka parah
Selendang sutramu turut berjasa

Potongan syair lagu diatas mengingatkanku pada peristiwa yang memilukan saat agresi milter belanda paska kemerdekaaan. Orang orang mengungsi menyelamatkan diri, bahan makanan sulit didapat. Tentara belanda siapa disetiap sudut kota dan banyak tentara Indonesia dan juga rakyat yang menjadi tawanan bahkan korban.

Ada banyak kejadian yang masih jelas teringat dan aku saksikan pada waktu itu bagaimana tentara belanda kembali datang ke Indonesia, masuk ke daerah-daerah, ke desa desa sebagai upaya untuk menjajah kembali

Tanggal 19 Desember 1948, Pada saat aku mengantar makanan untuk orang yang bekerja  membajak sawah, aku menyaksikan beberapa pesawat terbang berputar-putar di sekitar Maguwo Yogyakarta. Dan tentunya diiringi suara dentuman meriam yang menggelegar serta asap hitam yang membubung dimana mana. Setelah itu terdengar kabar bahwa Maguwo sudah diduduki tentara belanda.

Paska kejadian tersebut, Jalan-jalan di kota Yogyakarta di padati oleh para pengungsi yang ingi menyelematkan diri. Begitu pula kejadian di jalan Parangtritis, orang orang berjalan kearah selatan mencari tempat yang aman untuk mengungsi menyelamatkan diri.

Ingatan tersebut masihlah lekat dalam benak pikiranku. Pada waktu itu kami sekeluarga, Bapak, simbok, aku dan semua adikku juga turut serta dalam barisan pengungsi.

Menjelang akhir tahun, tepatnya tanggal 21 desember 1948, kami sekeluarga mengungsi menuju tempat saudara, tepatnya di daerah Bantulkarang dirumah Pakde Sutowiharjo.

Mengungsi dalam suasana genting hanya berbekal baju yang melekat dibadan. Terlebih lagi adik-adiku masih kecil, sehingga orang tuaku, terutama simbok masih harus menggendong adikku yang bernama Surojo.

Pada waktu itu kami masih sempat membawa sepeda untuk dituntun oleh bapak , Adikku Sulaiman bonceng dibelakang karena dia sering mimisan. Sedangkan adikku lainnya, Hindun mengikuti dibelakang. Bapakku selalu didepan, sebagai penunjuk jalan menuju tempat pengungsian. Jalanan sangat padat karena semua orang juga ingin mengungsi menyelamatkan diri.  

Sesampainya dirumah Pakde Suto, mereka menyambut dan mengangis haru, terutama Bokde Sutowiharjo, beliau mengusap kepala kami dan segera memberi kami  minum.

Beruntung kami punya saudara yang baik yang bisa  dijadikan tempat mengungsi.  Setelah beberapa waktu disana,  Tiba tiba terdengar kabar bahwa daerah Bantul juga sudah diduduki Belanda. Artinya kami harus mencari tempat pengungsian yang lebih aman.  Pakde dan Bude  Suto sendiri, memutuskan  untuk mengungsi di tempat anaknya.

Karena situasi tersebut menuntut kami harus segera meninggalkan tempat Pakde Suto mencari pengungsian yang lebih aman. Kami berjalan selatan  menuju tempat pengungsian berikutnya, Sampailah kami di  desa Kadekrowo Pandak Bantul. Kami mendapatkan rumah penduduk yang bisa dijadikan tempat singgah sementara yang  berukuran 4x 4.

Ditempat itulah kami bertahan dan masih harus berpikir bagaimana supaya tetap bisa makan dan bertahan hidup. Bapak memutuskan untuk  kembali ke krapyak untuk mengambil bahan makan serta menengok sawah dan ternaknya. Simbok, aku dan adikku berada di pengungsian.

Setelah menunggu sekian hari dan ayah belum kembali serta persediaan makan yang sudah hampir habis. Hanya berbekal sebuah keyakinan bahwa Alloh maha kaya, kami mampu bertahan. Itulah sebuah pengalaman hidup yang begitu menyesakkan karena situasi.

Simbok mempunyai ide untuk berjualan di pasar Gumulan untuk menyambung penghidupan. Sebuah usaha atau ikhtiar sebagai penopang penghidupan kami selama di pengungsian.

Setelah beberapa pekan di pengungsian di kadekrowo, aku minta ijin untuk menyusul ayah di krapyak. Ada rasa keinginan yang kuat sekali untuk menemui bapak. Awalnya, simbok melarangku namun akhirnya dengan berat hati ia mengijinkanku.

Simbok berpesan supaya mampir di Bantulkarang untuk pamit Pakde Suto, akhirnya sayapun pamit ke beliau.

Pakde berpesan, kalau pulang ke krapyak supaya lewat jalan pedesaaan, atau pinggiran saja, jangan lewat jalan utama karena belanda masih siaga dimana mana.

Walaupun sudah lewat jalan pinggiran, setiap kali bertemu orang, mereka pasti melarangku untuk menuju ke arah krapyak, karena Belanda masih disana.

Bahkan ada yang berucap: oooo iso ditembak Londo koe! Kata mereka. Namun keinginanku yang kuat ingin menemui bapakku disana tidaklah terbendung.

Alhamdulillah, akhirnya aku sampai di krapyak dengan selamat walupun harus melewati sawah dan sungai.

Petang hari sekitar jam 5 sore, aku sampai di krapyak dengan perasaan yang campur aduk, lelah, senang, dan ingin segera berjumpa dengan bapak.

Orang pertama yang aku temui disana adalah Pak Lik atau adiknya bapak yang sedang duduk di musholla. Dan beliau kaget luar biasa melihatku seraya bertanya banyak hal.

Aku ceritakan bahwa simbok dan adikku sehat dan berada di pengungsian di daerah bantul selatan.

Selanjutkan aku menanyakan kabar keluarga dan bapak yang lebih dulu kembali dari pengungsian.

Kemudian Pak Lik menceritakan tentang apa yang terjadi .  Dengan kata-kata yang terbata-bata, dan sesekali mengusap airmata yang jatuh diceritakanlah kejadian yang menimpa bapakku.

Beberapa hari yang lalu ketika bapak mau ke rumah Paklik, dalam perjalanan bertemu dengan tentara belanda.

Lalu tentara belanda meninterogasi dan juga mengintimidasi bapak, kami tahu betul bagaimana bapak memegang prinsip kehidupan. Pastinya tidak akan pernah mau dijadikan kacung belanda. Konon, bapak yang selalu membawa keris, menghunus senjata tersebut ke tentara belanda. Pendek kata bapak melawan, namun apa daya, 1 lawan 3, dan tentara pun menembakkan pelurunya ke arah bapak dan mengenai betis kiri dan paha kanan.  Setelah bapak bisa dilumpuhkan ditinggalkan begitu saja oleh Belanda di jalan. Terbayang betapa sakitnya luka yang diderita bapakku.

Selama 2 jam tidak ada orang yang berani menolong, Akhirnya ada orang dari krapyak kulon yang melintas yaitu Lik Amat dan Jumal, merekalah yang mencoba menolong bapak. Mereka membawa ke rumah dan dirawat oleh pak Lik adiknya bapak.

Dengan cara dan obat seadanya bapak diobati dengan cara dibalut dengan selendang dan dibersihkan luka tembaknya. Hampir tanpa medis atau obat. Alhamdulillah setelah beberapa bulan dirawat paklik, bapak bisa sembuh dengan bekas luka di paha dan betisnya.

Jika mengingat cerita tersebut, serasa bergetar dan merinding tubuh ini, apa jadinya bapakku jika tidak ditolong oleh Lik Amat, Pak Jumal dan Pak lik ku sendiri.

Mereka adalah orang orang yang ikhlas dan berjasa dalam rangkaian peristiwa hidup kami.

Paska kejadian itu bapak bisa beraktivitas kembali sampai Juni 1954.  Lagu-lagu perjuangan ditulis oleh para pujangga yang sangat berkesan mengingatkanku kembali pada pada peristiwa yang menimpa keluargaku dan juga orang orang pada waktu itu.

Ini adalah sepenggal kisah pengalaman hidup yang pernah aku alami pada masa itu. Sungguh perih rasanya. Namun keyakinan kepada Alloh, sungguhlah sebagai penguat. Alloh maha penolong dan mengirimkan orang orang baik untuk bisa menolong kami.

Semoga mereka mendapatkan balasan dari Alloh,  para pejuang, para orang tua kami, para orang orang yang tulus ikhlas menolong orang lain.

Bejen 17 Juni 2022

Leave a Reply

Your email address will not be published.