Mengontrol Pembicaraan

Orang yang arif mampu mengontrol pembicaraan. Ia mampu memilih saat yang tepat untuk bicara, materi pembicaraannya terukur, cara menyampaikannya pun santun dan bijaksana.

banner-zakat-header-11

Terkadang seseorang mampu berpuasa untuk tidak makan selama sebulan tetapi belum tentu bisa berpuasa bicara tiga hari. Mungkin itulah sebabnya Nabi Zakaria diminta untuk berpuasa bicara tiga hari, bukan berpuasa makan dan minum selama tiga puluh hari.

“Dia (Zakaria) berkata: Ya Tuhanku, berilah aku suatu tanda, (Allah) berfirman, “Tandamu ialah engkau tidak dapat berbicara dengan manusia selama tiga malam, padahal engkau sehat” (Q.S. Maryam/18:10).

Diam membuat kita jauh dari sifat munafik. Sebagaimana sabda Rasul: ”Diam itu adalah perhiasan bagi orang ’Alim dan selimut bagi orang bodoh.” (HR. Abu Syaikh, dari Muharriz).

Dikatakan oleh imam Hasan Al Bashri:“Sesungguhnya lidah orang mukmin berada dibelakang hatinya, apabila ingin berbicara tentang sesuatu maka dia merenungkan dengan hatinya terlebih dahulu, kemudian lidahnya menunaikannya. Sedangkan lidah orang munafik berada di depan hatinya, apabila menginginkan sesuatu maka dia mengutamakan lidahnya daripada memikirkan dulu dengan hatinya “.

Lidah adalah salah satu kenikmatan yang besar yang dianugerahkan Allah kepada hambaNya, padanya terdapat kebaikan yang banyak dan kemanfaatan yang luas bagi siapa yang menjaganya dengan baik dan mempergunakannya sebagaimana diharapkan syari’at. Dan padanya pula terdapat kejelekan yang banyak dan bahaya yang besar bagi siapa yang meremehkannya (membiarkannya) lalu digunakannya pada jalan atau tempat yang tidak semestinya.

Padahal Allah Ta’ala menciptakan lisan (lidah) itu agar digunakan untuk dzikrullah (menyebut Asma Allah), membaca Al Quran, menasehati manusia dan mengajak mereka kepada jalan Allah dan ketaatan serta memperkenalkan kepada mereka tentang kewajiban-kewajiban mereka terhadap Allah SWT.Maka jika si hamba mempergunakan lidahnya untuk tujuan tersebut, maka dia tergolong orang yang bersyukur kepada Allah atas nikmat lidah itu sendiri. Tapi jika sebaliknya, digunakan bukan pada jalan kebenaran seperti disebutkan di atas, maka dia adalah orang yang berbuat dholim lagi melampaui batas.

Berikut ayat Quran dan hadist yang memerintahkan kita untuk diam:

إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُوولًا

Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan dimintai pertanggung-jawaban.(QS. Al-Isra:36)

Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَليَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُت

Barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir maka hendaklah ia berkata baik atau hendaklah ia diam.(Muttafaq alaih)

Ali Bin Abi Thalib R.A pernah berkata: “Seseorang mati karena tersandung lidahnya dan seseorang tidak mati karena tersandung kakinya.Tersandung mulutnya akan menambah (pening) kepalanya sedangkan tersandung kakinya akan sembuh perlahan.” (HR. Bukhari)

Rasulullah SAW juga telah mengingatkan kita akan bahaya dari omongan yang tidak berguna. “Sesungguhnya kebanyakan dosa anak Adam berada pada lidahnya” (HR. Ath Thabarani) 

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ

Seorang muslim adalah seseorang yang orang muslim lainnya selamat dari ganguan lisan dan tangannya.

إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مَا يَتَبَيَّنُ مَا فِيهَا يَهْوِى بِهَا فِى النَّارِ أَبْعَدَ مَا بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ

Sesungguhnya ada seorang hamba yang berbicara dengan suatu perkataan yang tidak dipikirkan bahayanya terlebih dahulu, sehingga membuatnya dilempar ke neraka dengan jarak yang lebih jauh dari pada jarak antara timur dan barat.(HR. Muslim)  

Leave a Reply

Your email address will not be published.