Khutbah Jumát: Mari Bertaubat Sebelum Terlambat

Khutbah Jumát: Mari Bertaubat Sebelum Terlambat

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah

banner-zakat-header-11

Setiap hamba pasti pernah terjerumus dalam dosa, dosa kecil bahkan juga dosa besar. Mungkin saja seseorang sudah terjerumus dalam dosa besar, durhaka pada orang tua, minum khomr,  atau seringnya meninggalkan shalat lima waktu padahal meninggalkan satu shalat saja termasuk dosa besar berdasarkan kesepakatan para ulama.

Inilah dosa besar yang mungkin saja di antara kita pernah terjerumus di dalamnya. Lalu masihkah terbuka pintu taubat? Tentu saja pintu taubat masih terbuka, ampunan Allah begitu luas. Sifat Allah maha pengampun dan maha penyayang dapat kita temukan dalam surah al-Maidah ayat 39:

فَمَنْ تَابَ مِنْ بَعْدِ ظُلْمِهِ وَأَصْلَحَ فَإِنَّ اللَّهَ يَتُوبُ عَلَيْهِ ۗ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Maka siapa pun yang bertobat sesudah melakukan kejahatan dan memperbaiki diri, maka sesungguhnya Allah menerima tobatnya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Al-Quran surah al-Maidah ayat 39)

 Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah

Terkait kemurahan Allah dalam mengampuni dan menyayangi para hamba-Nya bahkan lebih besar daripada siksaan yang ditimpakan apabila berbuat dosa. Itulah kemurahan ampunan Allah. Luas dan tidak memiliki batas. Dalam sebuah hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah disebutkan mengenai ampunan Allah, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَوْ لَمْ تُذْنِبُوا لَذَهَبَ اللَّهُ بِكُمْ، وَلَجَاءَ بِقَوْمٍ يُذْنِبُونَ، فَيَسْتَغْفِرُونَ اللَّهَ فَيَغْفِرُ لَهُمْ

Artinya,“Demi Dzat yang diriku berada di tangan-Nya, jika kalian tidak berbuat dosa, Allah akan hilangkan kalian dan Allah akan datangkan kaum lain yang berdosa, lalu mereka pun minta ampun kepada Allah, Allah pun ampuni dosa mereka.” (Hadits riwayat Imam Muslim)

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah

Maksud hadits tersebut adalah  menegaskan bahwa ampunan Allah begitu luas dan besar, sehingga perumpamaannya dibuat sedemikian rupa sebagaimana hadits tadi. Namun jangan sekali-kali kita maknai hadits di atas menjadi sebuah tanda legalitas untuk kita melakukan suatu dosa. Itu tidaklah benar.

Adapun apa yang perlu dilakukan apabila setelah berbuat dosa, tentunya adalah bertaubat, tidak mengulangi lagi dan diikuti dengan perbuatan baik. Sebagaimana sabda Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wassalam

عَنْ أَبِى ذَرٍّ قَالَ قَالَ لِى رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « اتَّقِ اللَّهَ حَيْثُمَا كُنْتَ وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ ».

Dari Abu Dzar , ia berkata, Rasulullah —shallallahu ‘alaihi wa sallam— bersabda kepadaku: “Takwalah kamu kepada Allah di mana saja kamu berada, dan ikutilah kejelekan itu dengan kebaikan yang menghapusnya, dan berakhlaklah kepada manusia dengan akhlak yang baik.” (HR At-Tirmidzi,

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah

Kandungan hadis diatas adalah  adalah:

1). Bertakwalah kepada Allah di manapun kita berada dan dalam keadaan apapun

2). Jika kita berbuat kesalahan maka ikutilah dengan berbuat baik sebagai penghapus dari kesalahan itu.

3). Berakhlaklah yang baik kepada sesama manusia.

  • Jika kesalahan itu adalah membicarakan keburukan orang lain di hadapan seseorang, maka kebaikan itu adalah dengan memuji orang tadi di hadapan orang yang diajak berghibah sebelumnya, atau ia beristighfar kepada Allah.
  • Jika keburukannya itu adalah mencela seseorang di hadapan orang lain maka kebaikannya itu adalah menghormatinya, memuliakannya, dan menyebutnya dengan kebaikan.
  • Orang yang kejahatannya adalah membaca buku-buku yang buruk, maka kebaikannya adalah membaca Al-Qur’an, hadist, dan ilmu-ilmu Islam.
  • Orang yang keburukannya menghardik kedua orangtua maka kebaikannya itu adalah dengan berlaku sebaik-baiknya kepada kedua orangtuanya dan memuliakannya, serta berbuat baik kepadanya, terutama saat mereka dalam usia lanjut.
  • Orang yang keburukannya adalah memutuskan silaturahmi serta berbuat buruk kepada saudara maka kebaikannya adalah berbuat baik kepada mereka serta berusaha menjaga persaudaraan, walaupun mereka memutuskannya, dan memberi mereka walaupun mereka belum pernah memberi.
  • Jika keburukannya adalah duduk dalam tempat hiburan, main-main, dan melakukan yang haram maka kebaikannya itu adalah duduk di tempat kebaikan, dzikir, dan ilmu yang bermanfaat.

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah

Demikian khutbah jumat yang dapat khotib sampaikan, poinnya adalah ketika kita berbuat dosa segeralah bertaubat sebelum terlambat dan juga segera diikuti dengan perbuatan baik.

Leave a Reply

Your email address will not be published.