KECERDASAN EMOSI

KECERDASAN EMOSI

Seseorang menemui Nabi Muhammad, hendak menagih utang seekor unta. Ia datang sembari melontarkan kata-kata kasar. Kebetulan, saat itu sejumlah sahabat berada di sana.

banner-zakat-header-11

Mendengar perkataan si penagih utang, mereka tak terima dan berencana membalasnya. Namun, Muhammad SAW mencegah para sahabatnya berbuat demikian.

Beliau tak membalas perlakuan buruk terhadap dirinya dengan sikap yang sama. Sebaliknya, ia menunjukkan akhlaknya yang bagus. “Biarkanlah orang ini, sebab semua orang berhak bicara,” katanya mengenai tingkah si penagih utang kepada saha batnya.

Ia meminta tolong sahabatnya, jika ada seekor unta yang umurnya sama dengan unta yang diutangnya maka diberikan kepada si pemberi utang itu. Sayang, tak ada unta yang sebanding. Ada juga yang lebih besar.

Rasulullah meminta kepada para sahabatnya untuk menyerahkan unta itu. Ia pun berkata, orang terbaik di antara manusia adalah mereka yang paling baik dalam mengembalikan utang.

Riwayat lain menyebutkan, Umar bin Khattab ada di dekat Nabi ketika seorang datang menagih utang kepada Nabi dengan ucapan kasar. Umar tak kuasa menahan diri dan bermaksud menangkap orang itu.

Rasul mencegahnya serta memintanya sebaiknya mendorong dirinya segera membayarkan utang itu. Sebab, si pemberi utang tentu sedang sangat membutuhkan pelunasan dari orang yang berutang.

Sikap Nabi tersebut dalam istilah pakar psikologi, Daniel Goleman, disebut kecerdasan emosional. Atau dikenal dengan emotional quotient, disingkat EQ) adalah kemampuan seseorang untuk menerima, menilai, mengelola, serta mengontrol emosi dirinya dan orang lain di sekitarnya

Kecerdasan Emosi menurut Goleman dideskripsikan kedalam lima komponen utama

1. Self Awareness atau kesadaran Diri

2. Self Regulation atau pengelolaan diri

3. Internal Motivation

4. Empati

5. Social Skills

Berikut ini adalah contoh kecerdasan emosional.

1. Mampu mengenali perasaan diri sendiri
Orang yang memiliki kecerdasan emosional tahu apa yang sedang ia rasakan.

2. Mampu membaca perasaan orang lain
Kamu juga peka akan emosi yang sedang dirasakan orang lain sehingga kamu mungkin bisa “membaca” orang lain.

3. Mengetahui kekuatan dan kelemahan diri
Kamu tak hanya mampu mengenali perasaan yang muncul, tapi juga siapa dirimu sesungguhnya. Kamu tahu hal-hal yang menjadi keahlianmu dan juga aspek yang masih harus diperbaiki dalam kehidupanmu.

4. Tidak mudah tersinggung
Karena kamu memahami siapa dirimu, perkataan orang lain tak akan membuatmu merasa tersinggung dengan mudah. Kalaupun ada orang yang sengaja ingin menyakiti perasaanmu, kamu mau berjuang untuk memaafkan orang tersebut.

5. Bersyukur
Orang dengan kecerdasan emosional menyadari pentingnya bersyukur dan berpikiran positif setiap hari. Sebuah penelitian yang dilakukan University of California, Davis (UC Davis) bahwa orang yang terbiasa bersyukur memiliki tingkat hormon stres kortisol yang rendah. Karena rendahnya hormon kortisol, suasana hati dan kondisi kesehatan secara umum pun jadi lebih baik.

6. Menjadi pendengar yang baik
Pendengar yang baik memiliki kemampuan untuk berempati pada orang yang berbicara. Kamu mau mendengarkan tanpa maksud menghakimi, menyalahkan, atau menguntungkan diri sendiri. Kamu hanya ingin memahami orang lain dengan baik. Kamu pun tidak akan memotong pembicaraan orang lain dan selalu berusaha untuk mendengarkan dan berpikir sebelum berbicara.

7. Berpikiran terbuka
Kemampuan untuk memahami situasi serta membaca orang lain membuat orang yang punya kecerdasan emosional tinggi berpikiran terbuka. Kamu mau menerima ide yang berbeda, saran atau kritik dari orang lain, dan bisa bekerja sama dengan siapa saja. Kamu juga selalu menghindari berpikiran negatif soal orang lain sebelum memahami duduk perkaranya.

Leave a Reply

Your email address will not be published.