Perbedaan Utama Kesenangan Dan kebahagiaan

banner 120x600

Perbedaan utama antara Kebahagiaan dan Kesenangan adalah bahwa, sementara kebahagiaan merujuk pada keadaan yang lebih termotivasi secara internal, kesenangan dimotivasi secara eksternal.
Setiap orang ingin bahagia.

Namun sayangnya, banyak orang tidak bisa membedakan antara kebahagiaan (happiness) dengan kesenangan (pleasure). Akhirnya, mereka salah alamat, yang mereka kejar adalah kesenangan, bukannya kebahagiaan.

Perbedaan lainnya adalah Kesenangan itu bersifat sementara (short term), cepat sekali hilang, sedangkan kebahagiaan lebih langgeng (long term), bahkan seumur hidup, bahkan setelah mati pun, masih akan bahagia di alam sana.

Orang-orang yang mengejar kesenangan (yang disangka kebahagiaan), akan sangat lelah menjalani hidup ini. Bagaimana tidak?! Begitu dia berhasil mendapatkan kesenangan, punya hape baru misalnya, hanya dalam hitungan hari bahkan jam, rasa senang itu hilang lagi atau habis.

Akhirnya, dia mencari lagi kesenangan lain, beli hape baru lagi, atau barang baru yang lain.. Senang sebentar, hilang lagi, cari lagi.. Begitu seterusnya tidak akan ada habisnya. Tidak akan terpuaskan. Tidak akan bahagia.

Orang yang salah mengira kebahagiaan adalah kesenangan tadi juga jadi tidak mau merasakan selain rasa senang; tidak mau sedih, tidak mau takut, tidak mau marah. Mereka hanya mau senang. Titik! Padahal rasa-rasa selain rasa senang itu pasti akan ada, bahkan itu adalah tanda bahwa kita masih manusia.

Sedangkan konsep kebahagiaan itu bukan berati setiap hari bahkan setiap jam setiap menit senang terus. Orang yang benar bahagia, tetap bisa sedih, bisa takut, bisa marah. Tetapi meskipun sedih takut marah, mereka tetap bahagia. Contoh misalnya orang yg sakit, dia tentu sedih. Tidak ada orang yang senang sakit. Tetapi meskipun sedih, dia tetap bahagia, karena dia tau persis, yakin bahwa sakitnya itu merupakan bentuk kasih sayang Allah kepadanya. Dengan sakit tersebut, dosa-dosanya akan diampuni.

Jadi, secara sederhana kebahagiaan itu adalah sebuah lingkaran yang lebih besar dari lingkaran kecil-kecil di dalamnya berupa rasa senang, sedih, takut, marah, dan rasa-rasa yang lain yang pasti silih berganti tetapi tetap di dalam lingkaran besar kebahagiaan tersebut. Pastikan yang kita kejar adalah lingkaran besar kebahagiaan tersebut bukan lingkaran kecil kesenangan. Karena jika yang dikejar adalah lingkaran kecil kesenangan, maka lingkaran besar hanya akan menjadi ketidakbahagiaan.

Dalam bahasa Inggris, bahagia adalah happy atau happiness (kebahagiaan). Sedang kesenangan adalah pleasure atau fun. Jika dalam bahasa Arab, bahagia itu sa’adah atau sakinah. Sedang kesenangan itu syahwat atau mata’.

Biasanya al Qur’an menggunakan istilah syahwat atau mata’ untuk hal yg negatif. Misalnya, dalam surah ali Imran ayat 14 :

“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang disenangi, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga)”.

“Itu hanyalah kesenangan sementara, kemudian tempat tinggal mereka ialah Jahannam; dan Jahannam itu adalah tempat yang seburuk-buruknya” (Qs. 3:198).

Setiap anak manusia ketika ditanya, hidup untuk apa? Mereka pasti menjawab untuk mencari kebahagiaan (padanannya mencari ridho Allah, berguna bagi orang banyak, masuk surga, dan semacamnya). Namun apakah benar hidupnya untuk mencari bahagia? Jangan-jangan bukan kebahagiaan yang dicari tapi justru kesenangan yang negatif dan menyengsarakan.

Oleh karena itu agar tidak terjebak pada pencarian semu (yakni mencari bahagia tapi justru malah terperangkap pada kesenangan yg menyengsarakan) mari kita pelajari apa perbedaan antara kebahagiaan dan kesenangan.

Dilihat dari sasarannya. Bahagia itu sasarannya kepuasan hati. Senang sasarannya kenikmatan jasmani.
Bahagia adalah hati yang tenang dan puas. Sedang senang itu letaknya pada kenikmatan jasmani. Misalnya, makan enak itu senang. Tidur di kasur empuk itu senang. Naik mobil mewah yang nyaman itu senang. Tapi sholat khusyu’ itu bahagia. Shaum itu bahagia. Membantu orang lain itu bahagia. Jadi bahagia adalah bahasa hati yang seringkali tidak ada hubungannya dengan kenikmatan jasmani.

“Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram” (Qs. 13:28).

Dilihat dari dampaknya. Bahagia itu berdampak pada ketenangan. Senang berdampak pada ketagihan.
Orang yang bahagia akan merasa tenang dan tenteram. Sebuah perasaan yang damai dan merasa puas terhadap apa yang didapat. Tidak menagih dan kecanduan. Sedang senang akan membuat orang yang mengalaminya ketagihan. Ia ingin mengulangi hal tersebut terus menerus, bahkan dengan dosis yang lebih tinggi. Contoh, memakai narkoba akan menyebabkan orang senang dan kesenangan tsb menjadi candu yang menuntut penambahan dosis sampai taraf yang membahayakan dan sulit dihentikan. Begitu juga kesenangan-kesenangan lainnya cenderung membuat ketagihan untuk menambah dosisnya yang berujung kepada kerusakan dan kesengsaraan.

Dilihat dari waktunya. Bahagia itu langgeng (lebih lama). Senang itu temporer.
Bahagia yang dirasakan seseorang biasanya berjangka panjang. Jika pun diulang seperti sholat yang dilakukan berulang-ulang maka hal itu adalah cara seseorang untuk mendapatkan kebahagiaan jangka panjang. Sebaliknya, senang itu sangat temporer. Contohnya, ketika seseorang berhubungan seksual. Nikmatnya hanya berlangsung singkat. Setelah itu rasa nikmat dan senang itu sudah hilang. Dan harus diulang lagi untuk mendapatkan kesenangan serupa, bahkan kalau bisa menambah dosisnya agar memperoleh efek kesenangan yang sama. Itulah sebabnya saat ini makin banyak penyimpanan seksual yang terjadi karena mereka mencari kesenangan yang menuntut dosis kecanduan yang lebih tinggi lagi.

Dilihat dari faktanya. Bahagia itu belum tentu terlihat nyaman. Senang pasti berupa kenyamanan.
Orang yang bahagia belum tentu hidup kaya raya dan tinggal di alam bebas, tapi bisa juga kebahagiaan diperoleh oleh mereka yang hidup kekuarangan secara materi atau bahkan hidup di dalam penjara seperti yang dialami oleh Nabi Yusuf as, Nabi Isa as atau bahkan Nabi Ayub as yang terus menerus sakit.

Namun kesenangan pastilah berupa suasana yang nyaman dan enak, seperti tinggal di rumah mewah atau memakai baju yang mahal dan bagus.

Dilihat dari akhirnya. Bahagia berakhir dengan kesenangan dan ketenangan. Senang bisa jadi berakhir dengan kesedihan dan kesengsaraan.

Bagi orang yang mencari bahagia, kesenangan tetap akan diperolehnya tapi di surga kelak sebagai akhir yang baik. Sebaliknya bagi orang yang mengejar kesenangan, maka hidupnya akan berakhir dengan kesedihan dan nanti di akhirat akan masuk neraka sebagai kesengsaraan abadi. Naudzubillah.

Kesimpulannya, mari kita mencari kebahagiaan bukan kesenangan.Bukan berarti kita tidak boleh bersenang-senang, tetapi harus membatasi kesenangan. Persis seperti garam dalam makanan. Sedikit tapi tetap diperlukan. Wallahu’alam.

Leave a Reply

Your email address will not be published.